Berikut ini akan Kultwitt ttg kegiatan makan anak yg disambil kegiatan lain terutama bermain, padahal itu krg dianjurkan
1.
dewasa ini, kian byk ortu yang membiarkan anak balitanya bermain ketika
makan, bahkan byk yg membujuk anak agar mau makan sambil bermain
2. Pada sore hari, di taman byk terlihat ortu yg mengajak anaknya makan sambil bermain, berlari dan lain sebagainya
3.Hal tersebut sangat tidak dianjurkan, krn dpt berakibat yg krg baik scr lgsg maupun tdk lgsg
4.
Akibat langsungnya antara lain, anak menjadi sulit makan dan tdk mau
makan kecuali smbil bermain. Anak juga bisa memuntahkan kmbali
makanannya
5. Jangankan anak kecil, org dewasa saja dapat muntah
yg makan sambil berlari2an dapat membuat muntah dan sangat tdk
dianjurkan, knp anak2 kita dibiarkan spt itu?
6. Akibat tidak
lgsgnya antara lain, para org tua melewati suatu fase pembelajaran utk
anak, yaitu tdk dapat mengajarkan kpd anak bahwa kegiatan makan
merupakan suatu proses yg penting shg bukan suatu hal yg bsa dilakukan
sambil melakukan hal lain
7. Mungkin anak akan makan byk jika ia
makan sambil bermain, tp anak tdk mengetahui sbrp penting makan itu dan
apa saja yg ia makan.
8. Oleh karena itu, mulai skrg marilah kita mengajarkan anak untuk makan dengan tenang, duduk, tanpa melakukan kegiatan lain
9.
Hal ini sangat baik karena proses pencernaan dpt berlangsung lebih
sempurna sehingga gizi yg diperoleh tubuh pun dapat dicerna dgn baik
oleh tubuh
10. Mengajak anak makan tanpa melakukan kegiatan lain
dpt menunjukkan kepada anak bahwa makan adalah suatu proses penting shg
tdk bsa disambil kegiatan lain.
11. Bayangkan saja apa yg trjadi jika kita tdk makan, nah sebegitu pentinglah makan itu.
12. Makan sambil melakukan kegiatan lain dpt mengecilkan arti dari kegiatan makan tsb.
13.
ketika anak Makan sambil duduk manis, proses makan dpt menjadi stimulus
utk anak, orangtua dpt mengajak anak bercakap2 ttg makanan yg dimakan
14. Sunnah Rasul pun mengajarkan agar kita makan sambil duduk, lalu mengapa kita tdk mengajarkan anak makan smbil duduk?
15. Untuk mempermudah, biasakan anak makan pada kursinya sndiri atau high chair pada saat makan.
16.
Pd awalnya akan sulit membiasakan anak2 untuk makan sambil duduk,
apalagi bagi anak2 yang sudah terbiasa makan sambil bermain
17. Namun disitulah pentingnya org tua dan saat yg tepat untuk memberi pengajaran tentang pentingnya kegiatan makan.
18. Banyak anak2 yg rewel, menangis atau meronta pd saat dibiasakan makan sambil duduk tenang.
19.Namun,
Ortu harus tetap tenang, jgn sampai terpengaruh, karena tangisan itu
lama kelamaan dpt menjadi "senjata" utk anak di lain waktu
20. Beri pengertian kpd anak dgn kasih sayang dan kesabaran, agar anak dpt makan dgn baik
21.
Mungkin banyak orang yang tidak menyadari, bahwa proses sekecil apapun
dpt menjadi bagian pengajaran utk anak, termasuk mengajarkan disiplin
sejak dini pd anak. Makan adl salah satunya.
berbagi informasi mengenai nutrisi, anak-anak dan lainnya.. thank you and enjoy reading..
Kamis, 13 September 2012
Minggu, 24 Juni 2012
Nilai Lain Dibalik Menyusui Selain ASI
Satu minggu yang lalu, seorang teman saya baru saja
melahirkan anak pertamanya. Sejak hamil, ia sudah berniat dan menyiapkan diri
agar dapat memberikan ASI eksklusif untuk bayinya. Teman saya juga sudah
melaksanakan proses IMD segera setelah bayinya lahir.
Hari itu juga saya menjenguk teman saya yang masih dalam
pemulihan setelah proses persalinan yang sangat melelahkan. Betapa takjubnya
saya saat melihat sendiri proses menyusui yang dilakukan oleh teman saya
tersebut. Bahwa ternyata menyusui tidak hanya sekedar memberikan “air susu ibu”
untuk bayi. Ada value lain yang
terdapat dalam proses menyusui tersebut. Setelah melihat proses menyusui yang
dilakukan oleh teman saya tersebut, saya kemudian menyimpulkan bahwa menyusui
adalah suatu momen dimana ibu dan bayi melanjutkan perjuangannya bersama,
dimana setelah ibu dan bayi berlelah-lelah dalam proses melahirkan, mereka
harus melanjutkan perjuangannya untuk dapat menyusui.
Saat awal proses
menyusui, ibu harus berlatih agar bayinya dapat menyusui dengan baik, ibu juga
harus terus menyemangati bayi agar bayi dapat terus menghisap payudara ibu
meskipun mungkin saat itu ASI belum banyak keluar. Ibu juga harus tetap optimis
dan tidak boleh putus asa jika saat itu ASI-nya masih sedikit, yang perlu ibu
lakukan hanyalah menyusui sesering mungkin karena yang dapat merangsang
keluarnya ASI adalah hisapan bayi itu sendiri. Begitu pula dengan bayi, saat
awal proses menyusui, bayi juga harus berlatih agar dapat menghisap payudara
ibunya dengan baik. Saat-saat awal menyusui merupakan saat dimana bayi
“berkenalan” dengan payudara ibunya yang merupakan satu-satunya sumber
makanannya saat itu. Pada proses menyusui ini jugalah saat awal untuk dapat
membangun dan meningkatkan hubungan emosional dan komunikasi yang ada di antara
ibu dan bayi.
Pengalaman saya melihat proses menyusui ini menunjukkan bahwa
walaupun sulit untuk memberikan yang terbaik bagi bayi melalui IMD dan
menyusui, namun dengan persiapan yang baik, keyakinan, dan dukungan dari
keluarga, hal ini dapat dilakukan dengan baik. Hal-hal yang dapat dipersiapkan
agar dapat menjalani proses awal menyusui dengan baik diantaranya, pengetahuan yang baik
mengenai seluk beluk ASI dan menyusui, keyakinan dan optimisme bahwa ASI yang
dihasilkan akan banyak, serta yang tidak kalah penting yaitu dukungan dari
keluarga dan tenaga kesehatan agar ibu dapat melaksanakan proses IMD dan menyusui
dengan baik.
Sabtu, 28 April 2012
ASI, InvestASI Terbaik untuk Anak dan Keluarga
Dewasa ini, para orang tua seakan
berlomba-lomba untuk memberikan jaminan masa depan terbaik untuk anaknya. Ada
yang memulai semenjak anak itu sekolah, balita bahkan semenjak anak itu belum
lahir. Ada yang berbentuk asuransi pendidikan, asuransi kesehatan, tabungan
pendidikan atau apapun produknya untuk memberikan proteksi dan investasi untuk
masa depan anak. Namun, tahukah anda investasi terbaik untuk anak dan keluargaa
adalah ciptaan Tuhan, yaitu ASI Eksklusif selama 6 bulan yang dilanjutkan
dengan pemberian ASI sampai bayi berusia 2 tahun.
Dengan memberikan ASI, berarti Anda menjamin bayi Anda mendapatkan gizi terbaik yang sudah disediakan Tuhan, memastikan dengan tepat apa yang dibutuhkan bayi Anda, dan memproteksi bayi Anda dari berbagai macam penyakit sejak dini.
Sama seperti dengan memilihkan investasi terbaik untuk anak, para orang tua juga diharuskan dapat memberikan hal terbaik, menberikan jaminan dan proteksi terbaik. Bagaimanapun juga, semua itu hanya terdapat dalam ASI. Ketika salah memilih produk investasi, tentunya tidak anda rasakan sekarang dan akan dirasakan nanti. Mulai dari kurang optimalnya investasi anda sampai dengan resiko tinggi yang anda dapatkan. Apakah Anda akan mengambil resiko tinggi untuk anak Anda dengan memberikan makanan yang kurang tepat?
Dari semua investasi yang dilakukan sudah pasti semua orang tua menginginkan hasil terbaik untuk anaknya, namun yang terjadi adalah kekurangtahuan terhadap produk investasi yang tepat. Demikian pula dengan ASI, semua orang tua ingin memberikan gizi terbaik untuk anak, namun kekurangtahuan orang tua membuat anak tidak mendapatkan hasil terbaik. Banyak hal yang menjadi alasan bayi tidak mendapat ASI eksklusif justru karena orang tua tidak memiliki pengetahuan terhadap ASI. Apabila semua orang mengetahui tujuan, kandungan maupun hasil dari ASI ini sudah pasti semua orang tua akan memberikan ASI eksklusif tanpa memberikan susu formula atau cairan pengganti ASI lainnya sama sekali.
-ASI, investASI terbaik untuk anak dan keluarga-
oleh Mondy Dwi Syahryandi
Benarkah ASI Pertama Sedikit dan Tak Pernah Cukup?
Beberapa
waktu yang lalu, saya mengunjungi kerabat yang baru melahirkan. Karena
persalinan normal maka keesokan harinya sudah pulang. Saya pun berkunjung ke rumahnya.
Agak terkejut karena di sebelah bayi yang lucu itu terdapat botol susu yang
berisi air tajin. Sang ibu berkilah ASI tidak keluar dan sang bayi selalu
menangis yang diperkirakan karena masih haus dan ASI kurang.
Melihat hal itu saya merasa sedih. Perlu ditelisik lagi apakah
saat itu ASI-nya memang kurang atau itu hanya perasaan ibunya saja. Karena
seringkali kenyataannya ASI tidak benar-benar kurang. Hal-hal yang menandai
bahwa “mungkin saja” ASI kurang antara lain:
· Bayi tidak puas tiap
selesai menyusu, sering sekali menyusu, atau menyusu dengan waktu yang sangat
lama. Terkadang bayi juga lebih cepat menyusu. Seringkali ibu menyangka bahwa
produksi ASI-nya berkurang padahal hal ini dikarenakan bayinya telah pandai
menyusu.
· Bayi sering menangis atau
menolak menyusu.
· Tinja bayi keras, kering,
atau berwarna hijau.
· Payudara tidak membesar
selama kehamilan, hal ini masih jarang dijumpai, atau ASI tidak keluar pasca
lahir.
Selain
itu, terdapat pula tanda-tanda klinis yang menandakan bahwa ASI benar-benar
kurang, diantaranya:
·
Berat badan bayi meningkat kurang dari rata-rata 500 gram per
bulan.
·
Ngompol rata-rata kurang dari 6 kali dalam 24 jam, cairan urin
pekat, bau dan warna kuning.
Jika ibu
mendapati bahwa ASI-nya kurang, sebaiknya hindari susu formula atau cairan
pengganti ASI lainnya terlebih dahulu. Masih banyak cara yang dapat dilakukan
untuk meningkatkan produksi ASI. Hal yang paling utama yang dapat ibu lakukan
untuk meningkatkan produksi ASI adalah dengan selalu merasa rileks dan yakin
bahwa ia akan selalu dapat menyusui bayinya secara eksklusif. Jangan panik atau
stress karena stress justru dapat menghambat produksi hormon oksitosin yang
berpengaruh pada produksi ASI. Selain itu, ibu juga perlu memperhatikan posisi
dan perlekatan menyusui yang baik agar bayi dan ibu dapat selalu merasa nyaman
selama proses menyusui berlangsung.
Posisi menyusui
yang baik ditandai dengan perut bayi menempel pada tubuh ibu, kepala bayi
menghadap payudara, serta telinga dan lengan bayi berada dalam satu garis
lurus. Sedangkan perlekatan yang baik ditandai dengan mulut bayi yang terbuka
lebar, serta pipi bayi yang tampak cembung dan tidak tampaknya areola ibu
karena seluruh areola telah masuk ke dalam mulut bayi, areola bagian bawah
lebih banyak masuk ke mulut ibu. Usahakan sebagian besar areola dapat masuk ke
dalam mulut bayi, sehingga puting susu berada di bawah langit-langit dan lidah
bayi akan menekan ASI keluar dari kelenjar penghasil susu yang terletak di
bawah areola. Hal ini selain dapat memperbanyak keluarnya ASI juga dapat
mencegah terjadinya lecet pada puting susu ibu.
Selain posisi
dan perlekatan, lama dan frekuensi menyusui juga harus diperhatikan agar
produksi ASI tetap lancar. Untuk ibu yang baru melahirkan dan merasa ASI-nya
kurang, sering-seringlah menyusui bayi tanpa dijadwal sesuai kebutuhan bayi, karena
rangsangan hisap dari mulut bayi dapat merangsang kelenjar penghasil susu untuk
memproduksi lebih banyak lagi ASI. Ibu dapat menyusui bayi setiap kali bayinya
menangis atau setiap saat ibu sudah merasa perlu menyusui bayinya. Tak perlu
takut ASI akan cepat habis bila bayi sering menyusu, karena semakin sering ASI
dikeluarkan maka akan semakin bertambah banyak produksinya.
Bayi yang sehat
dapat mengosongkan satu payudara dalam waktu sekitar 5-7 menit. Pada awalnya
bayi akan menyusu dengan jadwal tidak teratur dan akan mempunyai pola tertentu
setelah berusia 1-2 minggu. Menyusui yang dijadwal akan berakibat kurang baik
karena hisapan bayi sangat berpengaruh pada produksi ASI berikutnya. Bagi ibu
yang bekerja di luar rumah, dianjurkan untuk sering memompa ASI setiap kali
payudara terasa penuh dilanjutkan dengan menyusui bayi langsung dari payudara
sesampainya di rumah. Hal ini berguna untuk merangsang produksi ASI. Sebaiknya
ibu juga menyusui di satu payudara terlebih dahulu sampai payudara terasa kosong
baru diganti dengan payudara lainnya. Setiap kali menyusui, dimulai dengan
payudara terakhir disusukan.
Jadi bagi ibu
yang baru melahirkan, tidak perlu merasa takut bahwa ASI-nya kurang atau tidak
dapat memproduksi ASI. Jangan mudah tergoda untuk memberikan cairan pengganti
ASI seperti susu formula atau air tajin untuk bayi karena masih banyak cara yang
dapat dilakukan untuk memperbanyak produksi ASI. Hanya ASI investASI terbaik
yang dapat kita berikan untuk buah hati kita sejak awal kehidupannya.
-sinta-
19.45 29042012
Jumat, 02 Maret 2012
Mengatasi Tantrum pada Anak
Pada hari Sabtu kemarin, tepatnya tanggal 25 Februari 2012, diadakan kegiatan Parenting dengan tema “Mengatasai Tantrum pada Anak” di Taman Pengembangan Anak Makara UI. Kegiatan Parenting ini diadakan dengan konsep sharing mengenai pengalaman saat mengatasi anak tantrum antar orang tua murid yang dipandu oleh moderator, koordinator TPA Makara UI yang juga psikolog anak.
“Temper tantrum” adalah emosi yang meledak. Kebanyakan output dari temper tantrum ini menjadi negatif. Negatif bukan karena meledaknya, tetapi karena perilaku lanjutan dari “temper tantrum” ini. Seperti misalnya memukul, menangis sambil berteriak-teriak, melempar dan merusak benda-benda di sekitarnya, serta menyakiti diri sendiri dan orang lain
Ada masa usia di mana seorang anak masih wajar untuk memiliki “temper tantrum”, yaitu pada usia 18 bulan sampai dengan 4 tahun. Akan tetapi bukan berarti jika anak menjadi tantrum pada usia itu orang tua dapat terus memaklumi tanpa melakukan tindakan, karena jika orang tua tidak membiasakan untuk memperlakukan anak yang tantrum dengan tepat sejak usia dini, bukan tidak mungkin anak tersebut akan terus memiliki “temper tantrum” sampai usianya dewasa nanti.
“Temper tantrum” terjadi karena anak ingin berkomunikasi atau menyampaikan sesuatu kepada orang di sekitarnya, tetapi mereka tidak tahu bagaimana cara mengkomunikasikannya. Sehingga terjadilah apa yang disebut dengan “temper tantrum” yang biasanya pada awalnya ditandai dengan anak menangis sambil berteriak kemudian setelah itu disertai oleh perilaku lanjutannya, seperti memukul atau melempar benda-benda di sekitarnya.
Tantrum terdiri dari 3 macam, yang pertama karena anak belajar, kedua karena adanya modelling, dan ketiga karena seeking attention. Anak-anak memiliki sifat yang cerdik. Beberapa anak yang tantrum karena belajar dan modeling, disebabkan karena anak berpikir bahwa ketika saya marah, orang tua saya akan mengabulkan keinginan saya. Itulah mengapa diperlukan penanganan yang tepat untuk anak tantrum. Sedangkan pada anak yang seeking attention, ia hanya kesulitan untuk mengkomunikasikan keinginannya sehingga kemudian menjadi tantrum untuk mencari perhatian orang-orang di sekitarnya. Anak yang mengalami speech delay juga kemungkinan besar akan menjadi tantrum. Karena speech delay memiliki 2 output, yaitu anak dapat menjadi pendiam sekali atau anak justru akan menjadi destruktif dan hiperaktif yang kemudian akan menjadi tantrum.
Puncak tantrum terjadi saat usia 2-3 tahun. Disebut juga toddler atau terrible two. Mengapa terrible two? Karena anak-anak pada usa 2-3 tahun mempunyai karakteristik tersendiri yang berbeda dengan bayi dan anak usia pre-school. Anak usia 2-3 tahun memiliki perilaku yang mirip dengan perilaku remaja, seperti misalnya sulit dinasihati dan cenderung menentang. Itulah mengapa anak pada usia ini mengalami puncak tantrum.
Memeluk anak merupakan tindakan paling bijaksana yang dapat dilakukan pada saat anak tantrum. Karena pelukan yang dilakukan oleh orang terdekat anak dapat menyamankan dan menenangkan emosi anak. Jangan pernah tanya “kenapa?” ketika anak sedang marah, karena kita tidak akan mendapat jawaban yang memuaskan dari anak dan anak pun belum tentu mau menjawabnya. Kitalah yang harus menebak apa yang menyebabkan kemarahan anak tersebut. Tunggu anak sampai selesai marah dulu baru kita mengajaknya bicara. Sebaiknya kita juga tidak menghukum anak yang tantrum, karena pada dasarnya anak memang tidak bersalah, anak hanya kesulitan untuk mengkomunikasikan pikirannya saja. Berilah apresiasi kepada anak yang mau diajak berbicara dengan baik setelah ia selesai marah, dengan begitu anak akan merasa dihargai.
Penanganan yang tepat untuk anak tantrum sangat diperlukan sejak usia dini. Karena jika temper tantrum tidak mendapatkan penanganan yang tepat sejak usia dini, tantrum akan berlanjut hingga anak dewasa.
-sinta-
09.41 03032012
Sabtu, 11 Februari 2012
Mitos Seputar Menyusui
Perilaku menyusui tak lepas dari budaya yang melatarbelakangi pola ibu dalam menyusui bayinya. Lingkungan dapat menjadi faktor penentu kesiapan dan kesediaan ibu untuk menyusui bayinya. Seperti pengalaman keluarga ibu tentang menyusui, pengetahuan ibu dan keluarga tentang manfaat ASI, sikap suami dan keluarga lainnya terhadap menyusui, sikap tenaga kesehatan yang membantu ibu memiliki pengaruh besar terhadap pengambilan keputusan menyusui atau tidak. Pandangan ibu tentang fisiknya pun ternyata dapat mempengaruhi keputusan untuk menyusui, hal ini berhubungan dengan kepercayaan diri ibu untuk menyusui anaknya.
Banyak mitos seputar menyusui yang sering beredar di masyarakat. Jika para ibu tidak segera mendapatkan edukasi yang tepat mengenai mitos-mitos tersebut, maka nantinya akan berdampak pada keputusan ibu untuk tidak menyusui bayinya dikarenakan mitos-mitos yang kurang tepat tersebut.
Di antara mitos-mitos yang sering beredar, beberapa diantaranya yang cukup sering ditanyakan oleh para ibu, yaitu:
· Tidak mau menyusui karena takut menjadi gemuk
Banyak ibu yang enggan menyusui karena beranggapan bahwa dengan menyusui tubuhnya akan menjadi semakin gemuk nantinya. Padahal timbunan lemak tubuh yang terbentuk selama masa kehamilan akan lebih cepat hilang karena digunakan dalam proses menyusui. Timbunan lemak memang terbentuk untuk proses menyusui ibu. Justru jika tidak digunakan untuk menyusui maka timbunan lemak tersebut akan menetap pada tubuh.
· Berhenti menyusui karena merasa ASI kurang cukup
Seperti hukum permintaan yang menyatakan bahwa semakin besar permintaan akan suatu barang maka semakin besar pula produksinya. Hal tersebut juga berlaku pada ASI. Tidak ada kata kurang cukup untuk ASI karena ASI diproduksi sesuai permintaan. Semakin sering bayi menyusu, maka semakin banyak pula ASI diproduksi. Jadi tidak ada kata ASI kurang cukup selama posisi dan pelekatan bayi pada payudara ibu benar sehingga bayi bisa dengan leluasa menghisap payudara ibu. ASI lebih mudah dicerna dan diserap dibanding susu lainnya sehingga bayi menjadi lebih cepat lapar. Berikanlah ASI sesering yang bayi mau.
· Tidak menyusui karena merasa ukuran payudara terlalu kecil
Ukuran payudara tidak mempengaruhi kemampuan memberikan ASI. ASI dihasilkan oleh jaringan kelenjar alveoli di dalam payudara. Faktor yang membedakan besar atau kecilnya payudara adalah jaringan lemaknya. Jadi selama anatomi payudara yang mendukung ibu untuk menyusui termasuk normal, maka ibu dapat menyusui tanpa dipengaruhi oleh ukuran payudara.
· Tidak memberikan kolostrum untuk bayi karena dianggap sebagai kotoran
ASI (kolostrum) yang yang pertama kali keluar sampai hari ketujuh kelahiran memang berwarna kekuningan dan jernih. Kolostrum adalah zat yang tinggi protein dan faktor-faktor pendukung imunitas bayi sehingga sangat baik diberikan bagi bayi yang baru lahir. Kolostrum juga rendah kandungan lemak dan laktosanya sehingga mudah dicerna dan tidak memberatkan kerja ginjal bayi yang baru lahir.
· Tidak mau menyusui karena takut bentuk payudara menjadi kendur
“Bagus” atau tidaknya payudara tidak ditentukan oleh proses menyusui karena bentuk payudara lebih berkaitan dengan keturunan dan usia. Menyusui atau tidak menyusui, akan terjadi perubahan bentuk payudara sejalan dengan bertambahnya usia. Selain itu, perawatan juga menentukan bentuk payudara nantinya. Gunakan bra yang dapat menyangga payudara dengan baik saat hamil dan menyusui agar payudara dapat terjaga selalu bentuknya dan tidak kendur.
· Menyusui itu repot
Bandingkan, lebih repot mana, menyusui atau memberikan susu formula? Jika menyusui, ibu bisa memberikannya kepada bayi kapan saja dan di mana saja tanpa harus repot membersihkan botol, menakar susu, mengatur suhu air, membawa semua perlengkapan membuat susu, dan tidak perlu waktu lama untuk persiapannya. ASI sangat praktis. Kapan saja bayi lapar, ibu tinggal membuka payudara dan memberikan puting ke mulut bayi. Suhu, takaran, dan terutama nutrisinya pasti pas untuk bayi. Jika ibu merasa kurang nyaman menyusui di tempat umum, saat ini sudah banyak dijual apron atau celemek yang digunakan saat menyusui untuk menutupi payudara.
-sinta-
20.51 10012012
Peran Ayah Terhadap ASI
Keberhasilan ibu dalam menyusui bayinya ditentukan oleh berbagai faktor. Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan ibu dalam menyusui adalah keluarga, terutama ayah (suami). Karena ayahlah yang selalu ada di saat istrinya hamil, melahirkan, sampai akhirnya memutuskan untuk menyusui atau tidak. Selain itu, ayah jugalah yang ikut berperan dalam menentukan bagaimana pola asuh yang akan diberikan pada bayinya nanti. Oleh karena itu, ayah juga berperan penting dalam keberhasilan ibu menyusui. Bahkan keberhasilan dan kegagalan ibu dalam menyusui 50%-nya berada di tangan ayah.
Ayah seharusnya adalah orang pertama yang mendukung program ASI untuk bayinya. Seharusnya tidak ada kata repot, susah, atau sulit dalam memberikan gizi terbaik untuk bayi. Mungkin sampai saat ini masih ada beberapa ayah yang tidak mendukung atau bahkan melarang ibu untuk menyusui bayinya dikarenakan berbagai alasan, seperti takut payudara istrinya menjadi kendur karena menyusui, tubuh istrinya menjadi semakin gemuk karena menyusui sehingga tidak enak dipandang lagi, atau dengan mengatakan bahwa lebih praktis memberi susu formula dengan menggunakan botol susu.
Pada kenyataannya, payudara tidak akan menjadi kendur hanya karena menyusui, usialah yang menyebabkan perubahan bentuk payudara. Selain itu, menyusui juga tidak menyebabkan tubuh menjadi gemuk, justru dengan menyusui, timbunan lemak selama kehamilan akan menjadi cepat hilang karena proses menyusui. Kemudian lebih repot mana ketika harus menyiapkan botol susu, air hangat, serta perlengkapan untuk membuat susu lainnya dibandingkan dengan menyusui langsung di mana ibu hanya tinggal memberikan payudara kepada bayinya tanpa perlu menyediakan perlengkapan membuat susu. Selain itu, untuk memberikan ASi ketika sedang dalam perjalanan, dapat diatasi dengan memompa ASI sebelum bepergian. Saat ini, sudah banyak tempat umum seperti mal dan perkantoran yang menyediakan nursing room yang dapat digunakan ibu untuk menyusui atau memompa ASI.
Pengeluaran ASI sangat dipengaruhi oleh mood ibu. Ibu harus selalu menjaga agar mood-nya tetap rileks agar dapat menyusui bayinya dengan lancar. Hal ini dikarenakan hormon oksitosin yang mempengaruhi pengeluaran ASI dapat bekerja dengan baik apabila mood ibu juga baik.Di sinilah dibutuhkan peran ayah. Ayah merupakan orang yang selalu berada di dekat ibu, sehingga ayah berperan penting dalam menentukan mood ibu. Seorang ayah yang baik yang mendukung istrinya untuk memberikan ASI kepada bayinya, akan selalu menjaga mood istrinya agar tetap baik.
Banyak cara yang dapat ayah lakukan dalam membantu ibu memberikan ASI, salah satunya adalah dengan cara meringankan beban ibu saat mengasuh anak seperti misalnya sesekali membantu menggantikan popok bayi atau ikut bangun saat bayi menangis di tengah malam. Hal-hal kecil seperti itulah yang membuat ibu merasa senang dan merasa diperhatikan oleh ayah. Apabila ibu merasa senang, oksitosin akan bekerja dengan baik dan ASI pun akan mengalir dengan lancar.
Jika sampai terjadi ASI tidak mengalir dengan lancar dikarenakan ibu merasa stress sehingga kerja oksitosin terhambat maka tugas ayahlah untuk membuat ibu merasa rileks lagi. Ayah dapat melakukan “pijat oksitosin” kepada ibu. Pijat ini dilakukan dengan memposisikan tubuh ibu duduk di kursi dengan tubuh menelungkup menghadap meja, buat agar ibu menjadi serileks mungkin. Setelah ibu sudah merasa rileks dengan posisinya, letakkan kepalan tangan dengan ibu jari berada sekitar 2 cm di bawah tulang atlas. Kemudian mulailah memijat dengan menggunakan kedua ibu jari di samping tulang punggung. Pijat dengan arah sejajar sampai ke tengah punggung, kemudian kembali ke atas lagi. Jika ibu sudah mulai merasa rileks, ASI yang tadinya tidak mengalir dengan lancar akan mulai menetes dari kedua payudara.
Selain itu, tidak ada salahnya juga bagi para ayah untuk ikut mempelajari mengenai ASI dan seluk-beluknya. Seperti apa saja manfaat ASI untuk ibu dan bayinya, bagaimana produksi dan pengeluaran ASI serta apa saja yang mendukungnya, serta kelebihan-kelebihan ASI dibandingkan susu formula. Karena untuk dapat mengasuh anak dengan baik tidak hanya diperlukan peran ibu saja, tapi juga dibutuhkan peran ayah. Dengan mengetahui dan mengerti tentang seluk-beluk ASI, ayah dapat menjadi tempat ibu bertanya dan meminta pendapat jika ibu merasa bingung tentang apa yang harus dilakukan agar dapat menyusui dengan baik.
ASI sangat baik untuk perkembangan bayi, ASI juga dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan bayi karena mengandung nutrisi yang seimbang dan tepat. Keberhasilan memberikan ASI eksklusif untuk bayi adalah suatu pencapaian besar bagi keluarga, terutama ibu. Oleh karena itu, diperlukan peran besar dari ayah untuk mulai memperhatikan, mempelajari, dan membantu ibu agar ASI dapat diberikan secara eksklusif untuk bayi. Apabila seorang ayah tahu betapa hebatnya manfaat ASI yang tidak dapat ditandingi oleh susu formula semahal apapun, saya yakin tidak akan ada kata repot atau susah untuk mendukung ibu sepenuhnya agar dapat memberikan ASI kepada bayinya.
-sinta-
13.05 18012012
Mengapa ASI?
Beberapa bulan yang lalu saya mengikuti pelatihan mengenai menyusui yang diadakan oleh PERINASIA (Perkumpulan Perinatologi Indonesia). PERINASIA merupakan lembaga yang dimotori oleh dokter-dokter kandungan dan dokter-dokter anak yang bergerak dalam meningkatkan kesehatan bayi yang baru lahir.
Pelatihan menyusui yang saya ikuti tersebut terdiri dari dua rangkaian, yang pertama adalah Manajemen Laktasi. Pada rangkaian pertama pelatihan ini, saya belajar mengenai apa itu ASI, cara menyusui yang baik dan benar, serta apa saja yang harus dilakukan baik oleh ibu maupun keluarga yang mendampingi agar ibu dapat menyusui dengan baik. Kemudian yang kedua adalah Konseling Menyusui. Pada rangkaian yang kedua ini saya belajar mengenai bagaimana cara mengedukasi dan memberi konseling yang baik kepada ibu hamil dan ibu menyusui.
Saat saya bercerita kepada teman-teman saya, beberapa dari mereka bertanya “Kok ASI sih, Sin? Buat apa? Lo udah mau punya anak ya? Ciyee nanti nyusuinnya jago dong?”. Ya, itu beberapa tanggapan yang mereka ucapkan saat mendengar bahwa saya akan mengikuti pelatihan menyusui ini. Mengapa saya tertarik dengan ASI? Jawabanya karena saya tertarik pada segala sesuatu yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan bayi. Kemudian bagaimana caranya agar bayi kita dapat tumbuh dan berkembang dengan baik? Jawabannya adalah dengan memberikan makanan yang mengandung nutrisi yang tepat dan sesuai untuk bayi. Lalu, makanan apa yang mengandung nutrisi yang paling tepat dan sesuai untuk bayi? Jawabannya adalah ASI, hanya ASI.
Manfaat dan Keunggulan ASI
Mengapa hanya ASI yang paling tepat untuk bayi? Bukankah ada susu formula yang harganya mahal yang mengandung nutrisi yang diklaim oleh produsennya baik untuk bayi?
ASI mengandung semua nutrisi yang diperlukan bayi dengan kandungan yang tepat dan seimbang. Kandungan nutrisi dalam ASI dapat berubah sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan bayi. Tidak ada makanan lain yang dapat menyamai keunggulan ASI ini. Walaupun itu adalah susu formula dengan harga yang paling mahal sekalipun. Selain nutrisi seperti protein, lemak, vitamin, dan mineral yang dapat disebut sebagai “komponen mati” yang dibutuhkan oleh bayi, ASI juga mengandung “komponen hidup” seperti bakteri Lactobacyllus bifidus, sel darah putih, laktoferin, antibodi, dan zat-zat lainnya yang berguna untuk kekebalan tubuh bayi. “Komponen hidup” inilah yang hanya terdapat pada ASI dan membuat ASI memiliki keunggulan dibanding susu formula, karena “komponen hidup” ini hanya dapat dibuat di dalam tubuh ibu.
Selain itu, ASI juga memiliki efek psikologis yang menguntungkan bagi ibu dan bayinya. Walaupun seorang ibu dapat memberikan kasih sayang yang besar dengan memberikan susu formula, tetapi menyusui sendiri akan memberikan efek psikologis yang lebih besar. Interaksi yang timbul pada saat ibu menyusui bayinya akan memberikan rasa aman bagi bayi.
Bayi yang mendapatkan ASI akan mengalami kenaikan berat badan yang stabil setelah lahir dan mengurangi kemungkinan obesitas pada bayi. Selain itu, ASI juga dapat mengurangi kejadian karies dentis pada bayi. Kejadian karies dentis pada bayi yang mendapat susu formula jauh lebih tinggi dibanding yang mendapat ASI, karena kebiasaan menyusui dengan dot terutama pada waktu akan tidur menyebabkan gigi lebih lama kontak dengan sisa susu formula dan menyebabkan asam yang terbentuk akan merusak gigi.
Selain memberi manfaat untuk bayi, menyusui juga sangat bermanfaat bagi ibu. Diantaranya yaitu oksitosin yang dikeluarkan saat menyusui dapat mencegah terjadinya pendarahan pasca persalinan sehingga mengurangi kejadian anemia defisiensi besi pada ibu. Kejadian kanker payudara juga lebih rendah pada ibu yang menyusui dibanding yang tidak menyusui. Menyusui juga dapat berguna sebagai alat KB (metode amenorrhea laktasi). Hormon yang mempertahankan laktasi (oksitosin) bekerja menekan hormon untuk ovulasi (estrogen) sehingga dapat menunda kembalinya kesuburan.
-sinta-
16.54 17012012
Inisiasi Menyusu Dini
Inisiasi Menyusu Dini (IMD) adalah proses bayi menyusu segera setelah dilahirkan, di mana bayi dibiarkan secara aktif mencari puting susu ibunya sendiri. Saat ini, program IMD sedang aktif digalakkan oleh pemerintah Indonesia di mana sudah banyak rumah sakit maupun bidan yang mengerti dan berkomitmen untuk menerapkan IMD pada ibu-ibu yang baru melahirkan. IMD sangat mempengaruhi keberlangsungan pemberian ASI eksklusif dan lama menyusui, sehingga bayi akan terpenuhi kebutuhan gizinya hingga usia 2 tahun dan juga mecegah kekurangan gizi pada bayi.
IMD dilakukan dengan cara langsung meletakkan bayi yang baru lahir di dada ibu dan membiarkan bayi merayap untuk menemukan puting susu ibu untuk menyusu. IMD harus dilakukan langsung setelah bayi lahir, tanpa boleh ditunda dengan kegiatan menimbang atau mengukur bayi. Bayi juga tidak boleh dibersihkan, hanya dikeringkan seluruh tubuhnya kecuali tangannya. Pakaikan selimut atau topi kepada bayi apabila diperlukan untuk memberi kehangatan pada bayi. Proses ini harus berlangsung skin to skin antara bayi dan ibu..Pemerintah Indonesia mendukung kebijakan WHO dan UNICEF yang merekomendasikan IMD sebagai tindakan “penyelamatan kehidupan”, karena IMD dapat mencegah kematian dini bayi sebelum usia satu bulan sebanyak 22%.
Untuk tahapan IMD secara rinci, dijelaskan sebagai berikut:
1. Para petugas kesehatan membantu proses persalinan Ibu baik normal maupun caesar.
2. Setelah lahir, seluruh tubuh bayi, kecuali kedua tangan secepatnya dikeringkan tanpa menghilangkan vernix (kulit putih yang menempel pada tubuh bayi setelah dilahirkan). Biarkan sisa-sisa amnion atau air ketuban tetap menempel pada kedua tangan bayi, karena aroma dari amnion inilah yang nantinya akan menuntun bayi untuk menemukan puting ibunya. Puting ibu memiliki aroma yang sama seperti aroma amnion. Sedangkan vernix dapat menyamankan kulit bayi selama IMD berlangsung.
3. Bayi kemudian diletakkan dalam posisi tengkurap di dada atau perut ibu, dengan kulit bayi melekat pada kulit ibu. Untuk mencegah bayi kedinginan, kepala bayi dapat dipakaikan topi. Kemudian, jika perlu, bayi dan ibu diselimuti.
4. Bayi yang ditengkurapkan di dada atau perut ibu, dibiarkan untuk mencari sendiri puting susu ibunya (bayi tidak dipaksakan ke puting susu). Pada dasarnya, bayi memiliki naluri yang kuat untuk mencari puting susu ibunya.
5. Saat bayi dibiarkan untuk mencari puting susu ibunya, ibu perlu didukung dan dibantu untuk mengenali perilaku bayi sebelum menyusu. Posisi ibu yang berbaring mungkin tidak dapat mengamati dengan jelas apa yang dilakukan oleh bayi.
6. Bayi dibiarkan tetap dalam posisi kulitnya bersentuhan dengan kulit ibu sampai proses menyusu pertama selesai.
7. Setelah selesai menyusu awal, bayi baru dipisahkan untuk ditimbang, diukur, dicap, diberi vitamin K, dan tetes mata.
8. Ibu dan bayi tetap bersama dan dirawat-gabung. Rawat-gabung memungkinkan ibu menyusui bayinya kapan saja si bayi menginginkannya, karena kegiatan menyusu tidak boleh dijadwal. Rawat-gabung juga akan meningkatkan bonding atau ikatan batin antara ibu dengan bayinya, bayi jadi jarang menangis karena selalu merasa dekat dengan ibu, selain itu dapat memudahkan ibu untuk beristirahat dan menyusui.
IMD memiliki banyak manfaat untuk ibu dan bayinya. Beberapa manfaat IMD untuk ibu di antaranya, dapat meningkatkan bonding atau ikatan batin antara ibu dan bayi. Menyusui segera setelah melahirkan melalui IMD juga dapat merangsang kontraksi otot rahim sehingga mengurangi risiko perdarahan sesudah melahirkan. IMD juga dapat memperbesar peluang ibu untuk memantapkan dan melanjutkan kegiatan menyusui selama dua tahun ke depan, dengan kata lain IMD dapat meningkatkan kepercayaan diri ibu untuk menyusui bayinya. Selain itu, IMD juga dapat mengurangi tingkat stress ibu setelah melahirkan karena ibu merasa lebih dekat dengan bayi.
Selain itu, IMD juga memiliki banyak manfaat untuk bayi. Diantaranya yaitu, IMD dapat mempertahankan suhu tubuh bayi agar tetap hangat. Perbedaan suhu antara rahim dan suhu ruangan setelah bayi dilahirkan sering kali membuat bayi ‘kaget’, kontak kulit antara ibu dan bayi dapat mencegah terjadinya ‘kekagetan’ bayi karena perbedaan suhu tersebut. IMD juga dapat mengurangi bayi menangis sehingga mengurangi stress dan tenaga yang dipakai ibu dan bayi. Melalui IMD, bayi akan terlatih motoriknya saat menyusu, sehingga mengurangi kesulitan menyusu di kemudian hari serta membantu perkembangan syaraf bayi. Secara metabolisme, IMD dapat mempercepat keluarnya meconium atau kotoran bayi yang berwarna hijau kehitaman yang pertama keluar dari bayi karena meminum air ketuban.
Hal yang terpenting dari IMD adalah kesempatan bayi untuk memperoleh kolostrum menjadi lebih besar. Kolostrum merupakan ASI yang pertama kali keluar yang berwarna kekuningan. Kolostrum dihasilkan dari hari pertama sampai hari ketiga setelah melahirkan. Kolostrum sangat bermanfaat bagi bayi karena mengandung tinggi protein dan mineral yang berguna untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi di hari-hari pertama kelahirannya. Selain itu kolostrum juga mengandung globulin dan tripsin inhibitor yang berguna sebagai antibody yang dapat meningkatkan imunitas bayi. Pelaksanaan IMD juga dapat mencegah terlewatnya puncak ‘refleks mengisap’ pada bayi yang terjadi 20-30 menit setelah lahir. Jika bayi tidak disusui, refleks akan berkurang cepat dan hanya akan muncul kembali dalam kadar secukupnya 40 jam kemudian. Kontak kulit antara ibu dan bayi pada beberapa jam pertama setelah kelahiran yang terjadi melalui IMD juga dapat mencegah bayi dari kedinginan karena perbedaan suhu antara di dalam rahim dan suhu ruangan, selain itu kontak kulit juga dapat meningkatkan bonding atau ikatan batin antara ibu dan bayi sehingga mengurangi stress yang mungkin terjadi pada keduanya.
Sebagai tambahan referensi, berikut ini saya berikan link video hasil dari kerjasama antara Kementerian Kesehatan RI dan UNICEF yang menggambarkan tahapan proses IMD yang baik dan benar serta pengalaman dari para ibu maupun para bidan yang sudah pernah melaksanakan IMD.
-sinta-
19012012 12.39
ASI Eksklusif
Menyusui adalah suatu cara dalam menyediakan makanan yang ideal bagi bayi. Makanan yang dihasilkan dari proses menyusui adalah air susu ibu (ASI). ASI merupakan makanan yang terbaik untuk bayi karena ASI mengandung semua nutrisi yang diperlukan bayi dengan kandungan yang tepat dan seimbang.
Pemberian ASI secara eksklusif adalah bayi hanya diberi ASI saja tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih, dan tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi, dan tim. Pemberian ASI secara eksklusif dianjurkan untuk jangka waktu sampai dengan 6 bulan. Hal ini sesuai dengan pernyataan WHO tahun 2001 bahwa ASI eksklusif selama 6 bulan pertama di kehidupan bayi adalah yang terbaik. Dengan demikian, ketentuan sebelumnya yang menyatakan bahwa ASI eksklusif hanya diberikan sampai bayi berusia 4 bulan sudah tidak berlaku lagi. Setelah bayi berusia 6 bulan, ia harus mulai diperkenalkan dengan makanan padat. Sedangkan ASI dapat terus diberikan sampai bayi berusia 2 tahun atau lebih.
WHO dan UNICEF merekomendasikan langkah-langkah berikut untuk dapat mencapai keberhasilan ASI eksklusif:
· Menyusui segera dalam waktu satu jam setelah melahirkan. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui proses Inisiasi Menyusu Dini (IMD).
· Menyusui secara ekslusif, hanya ASI selama 6 bulan. Artinya,hanya memberikan ASI saja tanpa tambahan makanan atau minuman lain, bahkan air putih sekalipun.
· Menyusui kapanpun bayi meminta (on-demand), sesering yang bayi mau tanpa dijadwal. Semakin sering bayi menyusu maka produksi ASI juga akan semakin bertambah banyak.
· Tidak menggunakan botol susu atau empeng. Hal ini untuk mencegah terjadinya “bingung puting” pada bayi. Bayi yang sudah pernah merasakan menyusu melalu dot biasanya akan sulit untuk menyusu langsung pada payudara ibu, dikarenakan perbedaan bentuk pada payudara dan dot yang mempengaruhi refleks menghisap bayi.
· Mengeluarkan ASI dengan menggunakan pompa atau tangan saat sedang tidak bersama bayi. Hal ini dilakukan untuk menjaga produksi ASI agar tetap banyak meskipun ibu sedang tidak menyusui. ASI yang sudah diperah dapat disimpan dan digunakan untuk cadangan untuk diberikan pada bayi di kemudian hari saat ibu sedang tidak bersama bayi atau tidak memungkinkan untuk menyusui.
· Mengendalikan emosi dan pikiran. Pikiran yang rileks penting agar produksi hormon oksitosin selalu lancar. Hormon oksitosin berguna untuk merangsang pengeluaran ASI. Kerja hormon oksitosin dapat menjadi terhambat apabila ibu merasa stress atau emosinya terganggu.
Pemberian makanan padat atau tambahan yang terlalu dini dapat mengganggu pemberian ASI eksklusif serta meningkatkan angka kesakitan pada ibu dan bayi. Selain itu, tidak ditemukan adanya bukti yang mendukung bahwa pemberian makanan padat atau tambahan pada usia 4 atau 5 bulan lebih menguntungkan. Bahkan sebaliknya hal ini akan mempunyai dampak yang negatif terhadap kesehatan bayi.
Air susu seorang ibu secara khusus disesuaikan untuk bayinya sendiri, misalnya ASI dari seorang ibu yang melahirkan bayi prematur komposisinya akan berbeda dengan ASI yang dihasilkan dari seorang ibu yang melahirkan bayi cukup bulan. ASI merupakan sumber gizi yang sangat ideal dengan komposisi yang seimbang dan disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan bayi. Melalui cara menyusui yang benar, ASI sebagai makanan tunggal akan cukup memenuhi kebutuhan pertumbuhan bayi normal sampai dengan usia 6 bulan.
Mengapa Jangan Memberikan Makanan Selain ASI Sebelum 6 Bulan?
Saat bayi berumur 6 bulan ke atas, sistem pencernaannya sudah relatif sempurna dan siap menerima makanan pendamping ASI (MP-ASI). Beberapa enzim pemecah protein seperti asam lambung, pepsin, lipase, dan amilase, baru akan diproduksi sempurna pada saat ia berumur 6 bulan. Selain itu, sebelum bayi berusia 6 bulan, sel-sel di dalam ususnya belum siap untuk mencerna kandungan gizi yang terdapat pada makanan. Sehingga makanan yang masuk dapat menyebabkan reaksi imun dan terjadi alergi. Menunda pemberian MP-ASI hingga 6 bulan juga dapat melindungi bayi dari obesitas di kemudian hari. Hal ini dikarenakan proses pemecahan sari-sari makanan yg belum sempurna sehingga kemudian dapat menumpuk menjadi sel lemak yang tidak diperlukan tubuh.
Pemberian MP-ASI setelah bayi berumur 6 bulan dapat memberikan perlindungan besar bagi bayi dari berbagai penyakit. Hal ini disebabkan belum sempurnanya sistem imun bayi yang berusia di bawah 6 bulan. Pemberian MP-ASI dini dapat membuka pintu gerbang masuknya berbagai jenis kuman ke dalam tubuh bayi. Terlebih lagi jika makanan yang disajikan tidak higienis. Hasil riset terakhir dari peneliti di Indonesia menunjukkan bahwa bayi yang mendapatkan MP-ASI sebelum ia berumur 6 bulan, lebih banyak terserang diare, sembelit, batuk pilek, dan demam dibandingkan bayi yg hanya mendapatkan ASI eksklusif.
Kalau begitu mengapa saat ini masih banyak ibu yang memberikan MP-ASI kepada bayinya sebelum berusia 6 bulan? Banyak sekali alasan mengapa ibu memberikan MP-ASI terlalu dini kepada bayinya. Umumnya banyak ibu yang beranggapan bahwa anaknya kelaparan dan akan tidur nyenyak jika diberi makan yang banyak. Walaupun tidak ada relevansinya banyak ibu yang beranggapan bahwa hal ini benar. Karena belum sempurna, sistem pencernaannya, maka bayi harus bekerja lebih keras untuk mengolah dan memecah makanan. Sehingga bayi merasa kenyang lebih lama dan lebih jarang menangis. Berbeda dengan ASI yang lebih mudah dicerna dan diserap oleh tubuh, sehingga bayi merasa lebih cepat lapar dan jadi lebih sering menangis karenanya.
Belum lagi masih banyak anggapan di masyarakat seperti orang tua terdahulu yang mengatakan bahwa anaknya baik-baik saja saat diberi makan pisang saat berumur 2 bulan. Alasan lainnya juga bisa jadi tekanan dari lingkungan dan tidak adanya dukungan dari orang tua atau bahkan suami untuk memberikan ASI eksklusif. Gencarnya promosi produsen susu formula dan minimnya pengetahuan ibu mengenai manfaat ASI eksklusif juga menjadi faktor yang menyebabkan kegagalan ASI eksklusif di masyarakat.
-sinta-
25012012 14.34
Langganan:
Postingan (Atom)