Sabtu, 11 Februari 2012

Mitos Seputar Menyusui

Perilaku menyusui tak lepas dari budaya yang melatarbelakangi pola ibu dalam menyusui bayinya. Lingkungan  dapat menjadi faktor penentu kesiapan dan kesediaan ibu untuk menyusui bayinya. Seperti pengalaman keluarga ibu tentang menyusui, pengetahuan ibu dan keluarga tentang manfaat ASI, sikap suami dan keluarga lainnya terhadap menyusui, sikap tenaga kesehatan yang membantu ibu memiliki pengaruh besar terhadap pengambilan keputusan menyusui atau tidak. Pandangan ibu tentang  fisiknya pun ternyata dapat mempengaruhi keputusan untuk menyusui, hal ini berhubungan dengan kepercayaan diri ibu untuk menyusui anaknya.
                Banyak mitos seputar menyusui yang sering beredar di masyarakat. Jika para ibu tidak segera mendapatkan edukasi yang tepat mengenai mitos-mitos tersebut, maka nantinya akan berdampak pada keputusan ibu untuk tidak menyusui bayinya dikarenakan mitos-mitos yang kurang tepat tersebut.
                Di antara mitos-mitos yang sering beredar, beberapa diantaranya yang cukup sering ditanyakan oleh para ibu, yaitu:
·      Tidak mau menyusui karena takut menjadi gemuk
Banyak ibu yang enggan menyusui karena beranggapan bahwa dengan menyusui tubuhnya akan menjadi semakin gemuk nantinya. Padahal timbunan lemak tubuh yang terbentuk selama masa kehamilan akan lebih cepat hilang karena digunakan dalam proses menyusui. Timbunan lemak memang terbentuk untuk proses menyusui ibu. Justru jika tidak digunakan untuk menyusui maka timbunan lemak tersebut akan menetap pada tubuh.
·      Berhenti menyusui karena merasa ASI kurang cukup
Seperti hukum permintaan yang menyatakan bahwa semakin besar permintaan akan suatu barang maka semakin besar pula produksinya. Hal tersebut juga berlaku pada ASI. Tidak ada kata kurang cukup untuk ASI karena ASI diproduksi sesuai permintaan. Semakin sering bayi menyusu, maka semakin banyak pula ASI diproduksi. Jadi tidak ada kata ASI kurang cukup selama posisi dan pelekatan bayi pada payudara ibu benar sehingga bayi bisa dengan leluasa menghisap payudara ibu. ASI lebih mudah dicerna dan diserap dibanding  susu lainnya sehingga bayi menjadi lebih cepat lapar. Berikanlah ASI sesering yang bayi mau.
·      Tidak menyusui karena merasa ukuran payudara terlalu kecil
Ukuran payudara tidak mempengaruhi kemampuan memberikan ASI. ASI dihasilkan oleh jaringan kelenjar alveoli di dalam payudara. Faktor yang membedakan besar atau kecilnya payudara adalah jaringan lemaknya. Jadi selama anatomi payudara yang mendukung ibu untuk menyusui termasuk normal, maka ibu dapat menyusui tanpa dipengaruhi oleh ukuran payudara.
·      Tidak memberikan kolostrum untuk bayi karena dianggap sebagai kotoran
ASI (kolostrum) yang yang pertama kali keluar sampai hari ketujuh kelahiran memang berwarna kekuningan dan jernih. Kolostrum adalah zat yang tinggi protein dan faktor-faktor pendukung imunitas bayi sehingga sangat baik diberikan bagi bayi yang baru lahir. Kolostrum juga rendah kandungan lemak dan laktosanya sehingga mudah dicerna dan tidak memberatkan kerja ginjal bayi yang baru lahir.
·      Tidak mau menyusui karena takut bentuk payudara menjadi kendur
“Bagus” atau tidaknya payudara tidak ditentukan oleh proses menyusui karena bentuk payudara lebih berkaitan dengan keturunan dan usia. Menyusui atau tidak menyusui, akan terjadi perubahan bentuk payudara sejalan dengan bertambahnya usia. Selain itu, perawatan juga menentukan bentuk payudara nantinya. Gunakan bra yang dapat menyangga payudara dengan baik saat hamil dan menyusui agar payudara dapat terjaga selalu bentuknya dan tidak kendur.
·      Menyusui itu repot
Bandingkan, lebih repot mana, menyusui atau memberikan susu formula?  Jika menyusui, ibu bisa memberikannya kepada bayi kapan saja dan di mana saja tanpa harus repot membersihkan botol, menakar susu, mengatur suhu air, membawa semua perlengkapan membuat susu, dan tidak perlu waktu lama untuk persiapannya. ASI sangat praktis. Kapan saja bayi lapar, ibu tinggal membuka payudara dan memberikan puting ke mulut bayi. Suhu, takaran, dan terutama nutrisinya pasti pas untuk bayi. Jika ibu merasa kurang nyaman menyusui di tempat umum, saat ini sudah banyak dijual apron atau celemek yang digunakan saat menyusui untuk menutupi payudara.

-sinta-
20.51 10012012

Peran Ayah Terhadap ASI

Keberhasilan ibu dalam menyusui bayinya ditentukan oleh berbagai faktor. Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan ibu dalam menyusui adalah keluarga, terutama ayah (suami). Karena ayahlah yang selalu ada di saat istrinya hamil, melahirkan, sampai akhirnya memutuskan untuk menyusui atau tidak. Selain itu, ayah jugalah yang ikut berperan dalam menentukan bagaimana pola asuh yang akan diberikan pada bayinya nanti. Oleh karena itu, ayah juga berperan penting dalam keberhasilan ibu menyusui. Bahkan keberhasilan dan kegagalan ibu dalam menyusui  50%-nya berada di tangan ayah.
                Ayah seharusnya adalah orang pertama yang mendukung program ASI untuk bayinya. Seharusnya tidak ada kata repot, susah, atau sulit dalam memberikan gizi terbaik untuk bayi. Mungkin sampai saat ini masih ada beberapa ayah yang tidak mendukung atau bahkan melarang ibu untuk menyusui bayinya dikarenakan berbagai alasan, seperti takut payudara istrinya menjadi kendur karena menyusui, tubuh istrinya menjadi semakin gemuk karena menyusui sehingga tidak enak dipandang lagi, atau dengan mengatakan bahwa lebih praktis memberi susu formula dengan menggunakan botol susu.
Pada kenyataannya, payudara tidak akan menjadi kendur hanya karena menyusui, usialah yang menyebabkan perubahan bentuk payudara. Selain itu, menyusui juga tidak menyebabkan tubuh menjadi gemuk, justru dengan menyusui, timbunan lemak selama kehamilan akan menjadi cepat hilang karena proses menyusui. Kemudian lebih repot mana ketika harus menyiapkan botol susu, air hangat, serta perlengkapan untuk membuat susu lainnya dibandingkan dengan menyusui langsung di mana ibu hanya tinggal memberikan payudara kepada bayinya tanpa perlu menyediakan perlengkapan membuat susu. Selain itu, untuk memberikan ASi ketika sedang dalam perjalanan, dapat diatasi dengan memompa ASI sebelum bepergian. Saat ini, sudah banyak tempat umum seperti mal dan perkantoran yang menyediakan nursing room yang dapat digunakan ibu untuk menyusui atau memompa ASI.
                Pengeluaran ASI sangat dipengaruhi oleh mood ibu. Ibu harus selalu menjaga agar mood-nya tetap rileks agar dapat menyusui bayinya dengan lancar. Hal ini dikarenakan hormon oksitosin yang mempengaruhi pengeluaran ASI dapat bekerja dengan baik apabila mood ibu juga baik.Di sinilah dibutuhkan peran ayah. Ayah merupakan orang yang selalu berada di dekat ibu, sehingga ayah berperan penting dalam menentukan mood ibu. Seorang ayah yang baik yang mendukung istrinya untuk memberikan ASI kepada bayinya, akan selalu menjaga mood istrinya agar tetap baik.
                Banyak cara yang dapat ayah lakukan dalam membantu ibu memberikan ASI, salah satunya adalah dengan cara meringankan beban ibu saat mengasuh anak seperti misalnya sesekali membantu menggantikan popok bayi atau ikut bangun saat bayi menangis di tengah malam. Hal-hal kecil seperti itulah yang membuat ibu merasa senang dan merasa diperhatikan oleh ayah. Apabila ibu merasa senang, oksitosin akan bekerja dengan baik dan ASI pun akan mengalir dengan lancar.
                Jika sampai terjadi ASI tidak mengalir dengan lancar dikarenakan ibu merasa stress sehingga kerja oksitosin terhambat maka tugas ayahlah untuk membuat ibu merasa rileks lagi. Ayah dapat melakukan “pijat oksitosin” kepada ibu. Pijat ini dilakukan dengan memposisikan tubuh ibu duduk di kursi dengan tubuh menelungkup menghadap meja, buat agar ibu menjadi serileks mungkin. Setelah ibu sudah merasa rileks dengan posisinya, letakkan kepalan tangan dengan ibu jari berada sekitar 2 cm di bawah tulang atlas. Kemudian mulailah memijat dengan menggunakan kedua ibu jari di samping tulang punggung. Pijat dengan arah sejajar sampai ke tengah punggung, kemudian kembali ke atas lagi. Jika ibu sudah mulai merasa rileks, ASI yang tadinya tidak mengalir dengan lancar akan mulai menetes dari kedua payudara.
                Selain itu, tidak ada salahnya juga bagi para ayah untuk ikut mempelajari mengenai ASI dan seluk-beluknya. Seperti apa saja manfaat ASI untuk ibu dan bayinya, bagaimana produksi dan pengeluaran ASI serta apa saja yang mendukungnya, serta kelebihan-kelebihan ASI dibandingkan susu formula. Karena untuk dapat mengasuh anak dengan baik tidak hanya diperlukan peran ibu saja, tapi juga dibutuhkan peran ayah. Dengan mengetahui dan mengerti tentang seluk-beluk ASI, ayah dapat menjadi tempat ibu bertanya dan meminta pendapat jika ibu merasa bingung tentang apa yang harus dilakukan agar dapat menyusui dengan baik.
                ASI sangat baik untuk perkembangan bayi, ASI juga dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan bayi karena mengandung nutrisi yang seimbang dan tepat. Keberhasilan memberikan ASI eksklusif untuk bayi adalah suatu pencapaian besar bagi keluarga, terutama ibu. Oleh karena itu, diperlukan peran besar dari ayah untuk mulai memperhatikan, mempelajari, dan membantu ibu agar ASI dapat diberikan secara eksklusif untuk bayi. Apabila seorang ayah tahu betapa hebatnya manfaat ASI yang tidak dapat ditandingi oleh susu formula semahal apapun, saya yakin tidak akan ada kata repot atau susah untuk mendukung ibu sepenuhnya agar dapat memberikan ASI kepada bayinya.


-sinta-
13.05 18012012

Mengapa ASI?

                
                Beberapa bulan yang lalu saya mengikuti pelatihan mengenai menyusui yang diadakan oleh PERINASIA (Perkumpulan Perinatologi Indonesia). PERINASIA merupakan lembaga yang dimotori oleh dokter-dokter kandungan dan dokter-dokter anak yang bergerak dalam meningkatkan kesehatan bayi yang baru lahir.
                Pelatihan menyusui yang saya ikuti tersebut terdiri dari dua rangkaian, yang pertama adalah Manajemen Laktasi. Pada rangkaian pertama pelatihan ini, saya belajar mengenai apa itu ASI, cara menyusui yang baik dan benar, serta apa saja yang harus dilakukan baik oleh ibu maupun keluarga yang mendampingi agar ibu dapat menyusui dengan baik. Kemudian yang kedua adalah Konseling Menyusui. Pada rangkaian yang kedua ini saya belajar mengenai bagaimana cara mengedukasi dan memberi konseling yang baik kepada ibu hamil dan ibu menyusui.
                Saat saya bercerita kepada teman-teman saya, beberapa dari mereka bertanya “Kok ASI sih, Sin? Buat apa? Lo udah mau punya anak ya? Ciyee nanti nyusuinnya jago dong?”. Ya, itu beberapa tanggapan yang mereka ucapkan saat mendengar bahwa saya akan mengikuti pelatihan menyusui ini. Mengapa saya tertarik dengan ASI? Jawabanya karena saya tertarik pada segala sesuatu yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan bayi. Kemudian bagaimana caranya agar bayi kita dapat tumbuh dan berkembang dengan baik? Jawabannya adalah dengan memberikan makanan yang mengandung nutrisi yang tepat dan sesuai untuk bayi. Lalu, makanan apa yang mengandung nutrisi yang paling tepat dan sesuai untuk bayi? Jawabannya adalah ASI, hanya ASI.

Manfaat dan Keunggulan ASI

                Mengapa hanya ASI yang paling tepat untuk bayi? Bukankah ada susu formula yang harganya mahal yang mengandung nutrisi yang diklaim oleh produsennya baik untuk bayi?
                ASI mengandung semua nutrisi yang diperlukan bayi dengan kandungan yang tepat dan seimbang. Kandungan nutrisi dalam ASI dapat berubah sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan bayi. Tidak ada makanan lain yang dapat menyamai keunggulan ASI ini. Walaupun itu adalah susu formula dengan harga yang paling mahal sekalipun. Selain nutrisi seperti protein, lemak, vitamin, dan mineral yang dapat disebut sebagai “komponen mati” yang dibutuhkan oleh bayi, ASI juga mengandung “komponen hidup” seperti bakteri Lactobacyllus bifidus, sel darah putih, laktoferin, antibodi, dan zat-zat lainnya yang berguna untuk kekebalan tubuh bayi. “Komponen hidup” inilah yang hanya terdapat pada ASI dan membuat ASI memiliki keunggulan dibanding susu formula, karena “komponen hidup” ini hanya dapat dibuat di dalam tubuh ibu.
                Selain itu, ASI juga memiliki efek psikologis yang menguntungkan bagi ibu dan bayinya.  Walaupun seorang ibu dapat memberikan kasih sayang yang besar dengan memberikan susu formula, tetapi menyusui sendiri akan memberikan efek psikologis yang lebih besar. Interaksi yang timbul pada saat ibu menyusui bayinya akan memberikan rasa aman bagi bayi.
                Bayi yang mendapatkan ASI akan mengalami kenaikan berat badan yang stabil setelah lahir dan mengurangi kemungkinan obesitas pada bayi. Selain itu, ASI juga dapat mengurangi kejadian karies dentis pada bayi. Kejadian karies dentis pada bayi yang mendapat susu formula jauh lebih tinggi dibanding yang mendapat ASI, karena kebiasaan menyusui dengan dot terutama pada waktu akan tidur menyebabkan gigi lebih lama kontak dengan sisa susu formula dan menyebabkan asam yang terbentuk akan merusak gigi.
                Selain memberi manfaat untuk bayi, menyusui juga sangat bermanfaat bagi ibu. Diantaranya yaitu oksitosin yang dikeluarkan saat menyusui dapat mencegah terjadinya pendarahan pasca persalinan sehingga mengurangi kejadian anemia defisiensi besi pada ibu. Kejadian kanker payudara juga lebih rendah pada ibu yang menyusui dibanding yang tidak menyusui. Menyusui juga dapat berguna sebagai alat KB (metode amenorrhea laktasi). Hormon yang mempertahankan laktasi (oksitosin) bekerja menekan hormon untuk ovulasi (estrogen) sehingga dapat menunda kembalinya kesuburan.

-sinta-
16.54 17012012

Inisiasi Menyusu Dini

Inisiasi Menyusu Dini (IMD) adalah proses bayi menyusu segera setelah dilahirkan, di mana bayi dibiarkan secara aktif mencari puting susu ibunya sendiri. Saat ini, program IMD sedang aktif digalakkan oleh pemerintah Indonesia di mana sudah banyak rumah sakit maupun bidan yang mengerti dan berkomitmen untuk menerapkan IMD pada ibu-ibu yang baru melahirkan. IMD sangat mempengaruhi keberlangsungan pemberian ASI eksklusif dan lama menyusui, sehingga bayi akan terpenuhi kebutuhan gizinya hingga usia 2 tahun dan juga mecegah kekurangan gizi pada bayi.
IMD dilakukan dengan cara langsung meletakkan bayi yang baru lahir di dada ibu dan membiarkan bayi merayap untuk menemukan puting susu ibu untuk menyusu. IMD harus dilakukan langsung setelah bayi lahir, tanpa boleh ditunda dengan kegiatan menimbang atau mengukur bayi. Bayi juga tidak boleh dibersihkan, hanya dikeringkan seluruh tubuhnya kecuali tangannya. Pakaikan selimut atau topi kepada bayi apabila diperlukan untuk memberi kehangatan pada bayi. Proses ini harus berlangsung skin to skin antara bayi dan ibu..Pemerintah Indonesia mendukung kebijakan WHO dan UNICEF yang merekomendasikan IMD sebagai tindakan “penyelamatan kehidupan”, karena IMD dapat mencegah kematian dini bayi sebelum usia satu bulan sebanyak 22%.
Untuk tahapan IMD secara rinci, dijelaskan sebagai berikut:
1.    Para petugas kesehatan membantu proses persalinan Ibu baik normal maupun caesar.
2.    Setelah lahir, seluruh tubuh bayi, kecuali kedua tangan secepatnya dikeringkan tanpa menghilangkan vernix (kulit putih yang menempel pada tubuh bayi setelah dilahirkan). Biarkan sisa-sisa amnion atau air ketuban tetap menempel pada kedua tangan bayi, karena aroma dari amnion inilah yang nantinya akan menuntun bayi untuk menemukan puting ibunya. Puting ibu memiliki aroma yang sama seperti aroma amnion. Sedangkan vernix dapat  menyamankan kulit bayi selama IMD berlangsung.
3.    Bayi kemudian diletakkan dalam posisi tengkurap di dada atau perut ibu, dengan kulit bayi melekat pada kulit ibu. Untuk mencegah bayi kedinginan, kepala bayi dapat dipakaikan topi. Kemudian, jika perlu, bayi dan ibu diselimuti.
4.    Bayi yang ditengkurapkan di dada atau perut ibu, dibiarkan untuk mencari sendiri puting susu ibunya (bayi tidak dipaksakan ke puting susu). Pada dasarnya, bayi memiliki naluri yang kuat untuk mencari puting susu ibunya.
5.    Saat bayi dibiarkan untuk mencari puting susu ibunya, ibu perlu didukung dan dibantu untuk mengenali perilaku bayi sebelum menyusu. Posisi ibu yang berbaring mungkin tidak dapat mengamati dengan jelas apa yang dilakukan oleh bayi.
6.    Bayi dibiarkan tetap dalam posisi kulitnya bersentuhan dengan kulit ibu sampai proses menyusu pertama selesai.
7.    Setelah selesai menyusu awal, bayi baru dipisahkan untuk ditimbang, diukur, dicap, diberi vitamin K, dan tetes mata.
8.    Ibu dan bayi tetap bersama dan dirawat-gabung. Rawat-gabung memungkinkan ibu menyusui bayinya kapan saja si bayi menginginkannya, karena kegiatan menyusu tidak boleh dijadwal. Rawat-gabung juga akan meningkatkan bonding atau ikatan batin antara ibu dengan bayinya, bayi jadi jarang menangis karena selalu merasa dekat dengan ibu, selain itu dapat memudahkan ibu untuk beristirahat dan menyusui.
IMD memiliki banyak manfaat untuk ibu dan bayinya. Beberapa manfaat IMD untuk ibu di antaranya, dapat meningkatkan bonding atau ikatan batin antara ibu dan bayi. Menyusui segera setelah melahirkan melalui IMD juga dapat merangsang kontraksi otot rahim sehingga mengurangi risiko perdarahan sesudah melahirkan. IMD juga dapat memperbesar peluang ibu untuk memantapkan dan melanjutkan kegiatan menyusui selama dua tahun ke depan, dengan kata lain IMD dapat meningkatkan kepercayaan diri ibu untuk menyusui bayinya. Selain itu, IMD juga dapat mengurangi tingkat stress ibu setelah melahirkan karena ibu merasa lebih dekat dengan bayi.
        Selain itu, IMD juga memiliki banyak manfaat untuk bayi. Diantaranya yaitu, IMD dapat mempertahankan suhu tubuh bayi agar tetap hangat. Perbedaan suhu antara rahim dan suhu ruangan setelah bayi dilahirkan sering kali membuat bayi ‘kaget’, kontak kulit antara ibu dan bayi dapat mencegah terjadinya ‘kekagetan’ bayi karena perbedaan suhu tersebut. IMD juga dapat mengurangi bayi menangis sehingga mengurangi stress dan tenaga yang dipakai ibu dan bayi. Melalui IMD, bayi akan terlatih motoriknya saat menyusu, sehingga mengurangi kesulitan menyusu di kemudian hari serta membantu perkembangan syaraf bayi. Secara metabolisme, IMD dapat mempercepat keluarnya meconium atau kotoran bayi yang berwarna hijau kehitaman yang pertama keluar dari bayi karena meminum air ketuban.
Hal yang terpenting dari IMD adalah kesempatan bayi untuk memperoleh kolostrum menjadi lebih besar. Kolostrum merupakan ASI yang pertama kali keluar yang berwarna kekuningan. Kolostrum dihasilkan dari hari pertama sampai hari ketiga setelah melahirkan. Kolostrum sangat bermanfaat bagi bayi karena mengandung tinggi protein dan mineral yang berguna untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi di hari-hari pertama kelahirannya. Selain itu kolostrum juga mengandung globulin dan tripsin inhibitor yang berguna sebagai antibody yang dapat meningkatkan imunitas bayi. Pelaksanaan IMD juga dapat mencegah terlewatnya puncak ‘refleks mengisap’ pada bayi yang terjadi 20-30 menit setelah lahir. Jika bayi tidak disusui, refleks akan berkurang cepat dan hanya akan muncul kembali dalam kadar secukupnya 40 jam kemudian. Kontak kulit antara ibu dan bayi pada beberapa jam pertama setelah kelahiran yang terjadi melalui IMD juga dapat mencegah bayi dari kedinginan karena perbedaan suhu antara di dalam rahim dan suhu ruangan, selain itu kontak kulit juga dapat meningkatkan bonding atau ikatan batin antara ibu dan bayi sehingga mengurangi stress yang mungkin terjadi pada keduanya.
Sebagai tambahan referensi, berikut ini saya berikan link video hasil dari kerjasama antara Kementerian Kesehatan RI dan UNICEF yang menggambarkan tahapan proses IMD yang baik dan benar serta pengalaman dari para ibu maupun para bidan yang sudah pernah melaksanakan IMD.

-sinta-
19012012 12.39

ASI Eksklusif

Menyusui adalah  suatu cara dalam menyediakan makanan yang ideal bagi bayi. Makanan yang dihasilkan dari proses menyusui adalah air susu ibu (ASI). ASI merupakan makanan yang terbaik untuk bayi karena ASI mengandung semua nutrisi yang diperlukan bayi dengan kandungan yang tepat dan seimbang.
Pemberian ASI secara eksklusif adalah bayi hanya diberi ASI saja tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih, dan tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi, dan tim. Pemberian ASI secara eksklusif dianjurkan untuk jangka waktu sampai dengan 6 bulan. Hal ini sesuai dengan pernyataan WHO tahun 2001 bahwa ASI eksklusif selama 6 bulan pertama di kehidupan bayi adalah yang terbaik. Dengan demikian, ketentuan sebelumnya yang menyatakan bahwa ASI eksklusif hanya diberikan sampai bayi berusia 4 bulan sudah tidak berlaku lagi. Setelah bayi berusia 6 bulan, ia harus mulai diperkenalkan dengan makanan padat. Sedangkan ASI dapat terus diberikan sampai bayi berusia 2 tahun atau lebih.
WHO dan UNICEF merekomendasikan langkah-langkah berikut untuk dapat mencapai keberhasilan ASI eksklusif:
·         Menyusui segera dalam waktu satu jam setelah melahirkan. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui proses Inisiasi Menyusu Dini (IMD).
·         Menyusui secara ekslusif, hanya ASI selama 6 bulan. Artinya,hanya memberikan ASI saja tanpa tambahan makanan atau minuman lain, bahkan air putih sekalipun.
·         Menyusui kapanpun bayi meminta (on-demand), sesering yang bayi mau tanpa dijadwal. Semakin sering bayi menyusu maka produksi ASI juga akan semakin bertambah banyak.
·         Tidak menggunakan botol susu atau empeng. Hal ini untuk mencegah terjadinya “bingung puting” pada bayi. Bayi yang sudah pernah merasakan menyusu melalu dot biasanya akan sulit untuk menyusu langsung pada payudara ibu, dikarenakan perbedaan bentuk pada payudara dan dot yang mempengaruhi refleks menghisap bayi.
·         Mengeluarkan ASI dengan menggunakan pompa atau tangan saat sedang tidak bersama bayi. Hal ini dilakukan untuk menjaga produksi ASI agar tetap banyak meskipun ibu sedang tidak menyusui. ASI yang sudah diperah dapat disimpan dan digunakan untuk cadangan untuk diberikan pada bayi di kemudian hari saat ibu sedang tidak bersama bayi atau tidak memungkinkan untuk menyusui.
·         Mengendalikan emosi dan pikiran. Pikiran yang rileks penting agar produksi hormon oksitosin selalu lancar. Hormon oksitosin berguna untuk merangsang pengeluaran ASI. Kerja hormon oksitosin dapat menjadi terhambat apabila ibu merasa stress atau emosinya terganggu.
Pemberian makanan padat atau tambahan yang terlalu dini dapat mengganggu pemberian ASI eksklusif serta meningkatkan angka kesakitan pada ibu dan bayi. Selain itu, tidak ditemukan adanya bukti yang mendukung bahwa pemberian makanan padat atau tambahan pada usia 4 atau 5 bulan lebih menguntungkan. Bahkan sebaliknya hal ini akan mempunyai dampak yang negatif terhadap kesehatan bayi.
Air susu seorang ibu secara khusus disesuaikan untuk bayinya sendiri, misalnya ASI dari seorang ibu yang melahirkan bayi prematur komposisinya akan berbeda dengan ASI yang dihasilkan dari seorang ibu yang melahirkan bayi cukup bulan. ASI merupakan sumber gizi yang sangat ideal dengan komposisi yang seimbang dan disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan bayi. Melalui cara menyusui yang benar, ASI sebagai makanan tunggal akan cukup memenuhi kebutuhan pertumbuhan bayi normal sampai dengan usia 6 bulan.

Mengapa Jangan Memberikan Makanan Selain ASI Sebelum 6 Bulan?

Saat bayi berumur 6 bulan ke atas, sistem pencernaannya sudah relatif sempurna dan siap menerima makanan pendamping ASI (MP-ASI). Beberapa enzim pemecah protein seperti asam lambung, pepsin, lipase, dan amilase, baru akan diproduksi sempurna pada saat ia berumur 6 bulan. Selain itu, sebelum bayi berusia 6 bulan, sel-sel di dalam ususnya belum siap untuk mencerna kandungan gizi yang terdapat pada makanan. Sehingga makanan yang masuk dapat menyebabkan reaksi imun dan terjadi alergi. Menunda pemberian MP-ASI hingga 6 bulan juga dapat melindungi bayi dari obesitas di kemudian hari. Hal ini dikarenakan proses pemecahan sari-sari makanan yg belum sempurna sehingga kemudian dapat menumpuk menjadi sel lemak yang tidak diperlukan tubuh.
Pemberian MP-ASI setelah bayi berumur 6 bulan dapat memberikan perlindungan besar bagi bayi dari berbagai penyakit. Hal ini disebabkan belum sempurnanya sistem imun bayi yang berusia di bawah 6 bulan. Pemberian MP-ASI dini dapat membuka pintu gerbang masuknya berbagai jenis kuman ke dalam tubuh bayi. Terlebih lagi jika makanan yang disajikan tidak higienis. Hasil riset terakhir dari peneliti di Indonesia menunjukkan bahwa bayi yang mendapatkan MP-ASI sebelum ia berumur 6 bulan, lebih banyak terserang diare, sembelit, batuk pilek, dan demam dibandingkan bayi yg hanya mendapatkan ASI eksklusif.
                Kalau begitu mengapa saat ini masih banyak ibu yang memberikan MP-ASI kepada bayinya sebelum berusia 6 bulan? Banyak sekali alasan mengapa ibu memberikan MP-ASI terlalu dini kepada bayinya. Umumnya banyak ibu yang beranggapan bahwa anaknya kelaparan dan akan tidur nyenyak jika diberi makan yang banyak. Walaupun tidak ada relevansinya banyak ibu yang beranggapan bahwa hal ini benar. Karena belum sempurna, sistem pencernaannya, maka bayi harus bekerja lebih keras untuk mengolah dan memecah makanan. Sehingga bayi merasa kenyang lebih lama dan lebih jarang menangis. Berbeda dengan ASI yang lebih mudah dicerna dan diserap oleh tubuh, sehingga bayi merasa lebih cepat lapar dan jadi lebih sering menangis karenanya.
                Belum lagi masih banyak anggapan di masyarakat seperti orang tua terdahulu yang mengatakan bahwa anaknya baik-baik saja saat diberi makan pisang saat berumur 2 bulan. Alasan lainnya juga bisa jadi tekanan dari lingkungan dan tidak adanya dukungan dari orang tua atau bahkan suami untuk memberikan ASI eksklusif. Gencarnya promosi produsen susu formula dan minimnya pengetahuan ibu mengenai manfaat ASI eksklusif juga menjadi faktor yang menyebabkan kegagalan ASI eksklusif di masyarakat.

-sinta-
25012012 14.34