Sabtu, 28 April 2012

ASI, InvestASI Terbaik untuk Anak dan Keluarga


Dewasa ini, para orang tua seakan berlomba-lomba untuk memberikan jaminan masa depan terbaik untuk anaknya. Ada yang memulai semenjak anak itu sekolah, balita bahkan semenjak anak itu belum lahir. Ada yang berbentuk asuransi pendidikan, asuransi kesehatan, tabungan pendidikan atau apapun produknya untuk memberikan proteksi dan investasi untuk masa depan anak. Namun, tahukah anda investasi terbaik untuk anak dan keluargaa adalah ciptaan Tuhan, yaitu ASI Eksklusif selama 6 bulan yang dilanjutkan dengan pemberian ASI sampai bayi berusia 2 tahun.

Dengan memberikan ASI, berarti Anda menjamin bayi Anda mendapatkan gizi terbaik yang sudah disediakan Tuhan, memastikan dengan tepat apa yang dibutuhkan bayi Anda, dan memproteksi bayi Anda dari berbagai macam penyakit sejak dini.

Sama seperti dengan memilihkan investasi terbaik untuk anak, para orang tua juga diharuskan dapat memberikan hal terbaik, menberikan jaminan dan proteksi terbaik. Bagaimanapun juga, semua itu hanya terdapat dalam ASI. Ketika salah memilih produk investasi, tentunya tidak anda rasakan sekarang dan akan dirasakan nanti. Mulai dari kurang optimalnya investasi anda sampai dengan resiko tinggi yang anda dapatkan. Apakah Anda akan mengambil resiko tinggi untuk anak Anda dengan memberikan makanan yang kurang tepat? 

Dari semua investasi yang dilakukan sudah pasti semua orang tua menginginkan hasil terbaik untuk anaknya, namun yang terjadi adalah kekurangtahuan terhadap produk investasi yang tepat. Demikian pula dengan ASI, semua orang tua ingin memberikan gizi terbaik untuk anak, namun kekurangtahuan orang tua membuat anak tidak mendapatkan hasil terbaik. Banyak hal yang menjadi alasan bayi tidak mendapat ASI eksklusif justru karena orang tua tidak memiliki pengetahuan terhadap ASI. Apabila semua orang mengetahui tujuan, kandungan maupun hasil dari ASI ini sudah pasti semua orang tua akan memberikan ASI eksklusif tanpa memberikan susu formula atau cairan pengganti ASI lainnya sama sekali.

-ASI, investASI terbaik untuk anak dan keluarga-
oleh Mondy Dwi Syahryandi

Benarkah ASI Pertama Sedikit dan Tak Pernah Cukup?


Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi kerabat yang baru melahirkan. Karena persalinan normal maka keesokan harinya sudah pulang. Saya pun berkunjung ke rumahnya. Agak terkejut karena di sebelah bayi yang lucu itu terdapat botol susu yang berisi air tajin. Sang ibu berkilah ASI tidak keluar dan sang bayi selalu menangis yang diperkirakan karena masih haus dan ASI kurang. 
Melihat hal itu saya merasa sedih. Perlu ditelisik lagi apakah saat itu ASI-nya memang kurang atau itu hanya perasaan ibunya saja. Karena seringkali kenyataannya ASI tidak benar-benar kurang. Hal-hal yang menandai bahwa “mungkin saja” ASI kurang antara lain:
· Bayi tidak puas tiap selesai menyusu, sering sekali menyusu, atau menyusu dengan waktu yang sangat lama. Terkadang bayi juga lebih cepat menyusu. Seringkali ibu menyangka bahwa produksi ASI-nya berkurang padahal hal ini dikarenakan bayinya telah pandai menyusu.
· Bayi sering menangis atau menolak menyusu.
· Tinja bayi keras, kering, atau berwarna hijau.
· Payudara tidak membesar selama kehamilan, hal ini masih jarang dijumpai, atau ASI tidak keluar pasca lahir.
Selain itu, terdapat pula tanda-tanda klinis yang menandakan bahwa ASI benar-benar kurang, diantaranya:
·    Berat badan bayi meningkat kurang dari rata-rata 500 gram per bulan.
·    Ngompol rata-rata kurang dari 6 kali dalam 24 jam, cairan urin pekat, bau dan warna kuning.
            Jika ibu mendapati bahwa ASI-nya kurang, sebaiknya hindari susu formula atau cairan pengganti ASI lainnya terlebih dahulu. Masih banyak cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi ASI. Hal yang paling utama yang dapat ibu lakukan untuk meningkatkan produksi ASI adalah dengan selalu merasa rileks dan yakin bahwa ia akan selalu dapat menyusui bayinya secara eksklusif. Jangan panik atau stress karena stress justru dapat menghambat produksi hormon oksitosin yang berpengaruh pada produksi ASI. Selain itu, ibu juga perlu memperhatikan posisi dan perlekatan menyusui yang baik agar bayi dan ibu dapat selalu merasa nyaman selama proses menyusui berlangsung.
            Posisi menyusui yang baik ditandai dengan perut bayi menempel pada tubuh ibu, kepala bayi menghadap payudara, serta telinga dan lengan bayi berada dalam satu garis lurus. Sedangkan perlekatan yang baik ditandai dengan mulut bayi yang terbuka lebar, serta pipi bayi yang tampak cembung dan tidak tampaknya areola ibu karena seluruh areola telah masuk ke dalam mulut bayi, areola bagian bawah lebih banyak masuk ke mulut ibu. Usahakan sebagian besar areola dapat masuk ke dalam mulut bayi, sehingga puting susu berada di bawah langit-langit dan lidah bayi akan menekan ASI keluar dari kelenjar penghasil susu yang terletak di bawah areola. Hal ini selain dapat memperbanyak keluarnya ASI juga dapat mencegah terjadinya lecet pada puting susu ibu.
            Selain posisi dan perlekatan, lama dan frekuensi menyusui juga harus diperhatikan agar produksi ASI tetap lancar. Untuk ibu yang baru melahirkan dan merasa ASI-nya kurang, sering-seringlah menyusui bayi tanpa dijadwal sesuai kebutuhan bayi, karena rangsangan hisap dari mulut bayi dapat merangsang kelenjar penghasil susu untuk memproduksi lebih banyak lagi ASI. Ibu dapat menyusui bayi setiap kali bayinya menangis atau setiap saat ibu sudah merasa perlu menyusui bayinya. Tak perlu takut ASI akan cepat habis bila bayi sering menyusu, karena semakin sering ASI dikeluarkan maka akan semakin bertambah banyak produksinya.
            Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara dalam waktu sekitar 5-7 menit. Pada awalnya bayi akan menyusu dengan jadwal tidak teratur dan akan mempunyai pola tertentu setelah berusia 1-2 minggu. Menyusui yang dijadwal akan berakibat kurang baik karena hisapan bayi sangat berpengaruh pada produksi ASI berikutnya. Bagi ibu yang bekerja di luar rumah, dianjurkan untuk sering memompa ASI setiap kali payudara terasa penuh dilanjutkan dengan menyusui bayi langsung dari payudara sesampainya di rumah. Hal ini berguna untuk merangsang produksi ASI. Sebaiknya ibu juga menyusui di satu payudara terlebih dahulu sampai payudara terasa kosong baru diganti dengan payudara lainnya. Setiap kali menyusui, dimulai dengan payudara terakhir disusukan.
            Jadi bagi ibu yang baru melahirkan, tidak perlu merasa takut bahwa ASI-nya kurang atau tidak dapat memproduksi ASI. Jangan mudah tergoda untuk memberikan cairan pengganti ASI seperti susu formula atau air tajin untuk bayi karena masih banyak cara yang dapat dilakukan untuk memperbanyak produksi ASI. Hanya ASI investASI terbaik yang dapat kita berikan untuk buah hati kita sejak awal kehidupannya.

-sinta-
19.45 29042012