Beberapa
waktu yang lalu, saya mengunjungi kerabat yang baru melahirkan. Karena
persalinan normal maka keesokan harinya sudah pulang. Saya pun berkunjung ke rumahnya.
Agak terkejut karena di sebelah bayi yang lucu itu terdapat botol susu yang
berisi air tajin. Sang ibu berkilah ASI tidak keluar dan sang bayi selalu
menangis yang diperkirakan karena masih haus dan ASI kurang.
Melihat hal itu saya merasa sedih. Perlu ditelisik lagi apakah
saat itu ASI-nya memang kurang atau itu hanya perasaan ibunya saja. Karena
seringkali kenyataannya ASI tidak benar-benar kurang. Hal-hal yang menandai
bahwa “mungkin saja” ASI kurang antara lain:
· Bayi tidak puas tiap
selesai menyusu, sering sekali menyusu, atau menyusu dengan waktu yang sangat
lama. Terkadang bayi juga lebih cepat menyusu. Seringkali ibu menyangka bahwa
produksi ASI-nya berkurang padahal hal ini dikarenakan bayinya telah pandai
menyusu.
· Bayi sering menangis atau
menolak menyusu.
· Tinja bayi keras, kering,
atau berwarna hijau.
· Payudara tidak membesar
selama kehamilan, hal ini masih jarang dijumpai, atau ASI tidak keluar pasca
lahir.
Selain
itu, terdapat pula tanda-tanda klinis yang menandakan bahwa ASI benar-benar
kurang, diantaranya:
·
Berat badan bayi meningkat kurang dari rata-rata 500 gram per
bulan.
·
Ngompol rata-rata kurang dari 6 kali dalam 24 jam, cairan urin
pekat, bau dan warna kuning.
Jika ibu
mendapati bahwa ASI-nya kurang, sebaiknya hindari susu formula atau cairan
pengganti ASI lainnya terlebih dahulu. Masih banyak cara yang dapat dilakukan
untuk meningkatkan produksi ASI. Hal yang paling utama yang dapat ibu lakukan
untuk meningkatkan produksi ASI adalah dengan selalu merasa rileks dan yakin
bahwa ia akan selalu dapat menyusui bayinya secara eksklusif. Jangan panik atau
stress karena stress justru dapat menghambat produksi hormon oksitosin yang
berpengaruh pada produksi ASI. Selain itu, ibu juga perlu memperhatikan posisi
dan perlekatan menyusui yang baik agar bayi dan ibu dapat selalu merasa nyaman
selama proses menyusui berlangsung.
Posisi menyusui
yang baik ditandai dengan perut bayi menempel pada tubuh ibu, kepala bayi
menghadap payudara, serta telinga dan lengan bayi berada dalam satu garis
lurus. Sedangkan perlekatan yang baik ditandai dengan mulut bayi yang terbuka
lebar, serta pipi bayi yang tampak cembung dan tidak tampaknya areola ibu
karena seluruh areola telah masuk ke dalam mulut bayi, areola bagian bawah
lebih banyak masuk ke mulut ibu. Usahakan sebagian besar areola dapat masuk ke
dalam mulut bayi, sehingga puting susu berada di bawah langit-langit dan lidah
bayi akan menekan ASI keluar dari kelenjar penghasil susu yang terletak di
bawah areola. Hal ini selain dapat memperbanyak keluarnya ASI juga dapat
mencegah terjadinya lecet pada puting susu ibu.
Selain posisi
dan perlekatan, lama dan frekuensi menyusui juga harus diperhatikan agar
produksi ASI tetap lancar. Untuk ibu yang baru melahirkan dan merasa ASI-nya
kurang, sering-seringlah menyusui bayi tanpa dijadwal sesuai kebutuhan bayi, karena
rangsangan hisap dari mulut bayi dapat merangsang kelenjar penghasil susu untuk
memproduksi lebih banyak lagi ASI. Ibu dapat menyusui bayi setiap kali bayinya
menangis atau setiap saat ibu sudah merasa perlu menyusui bayinya. Tak perlu
takut ASI akan cepat habis bila bayi sering menyusu, karena semakin sering ASI
dikeluarkan maka akan semakin bertambah banyak produksinya.
Bayi yang sehat
dapat mengosongkan satu payudara dalam waktu sekitar 5-7 menit. Pada awalnya
bayi akan menyusu dengan jadwal tidak teratur dan akan mempunyai pola tertentu
setelah berusia 1-2 minggu. Menyusui yang dijadwal akan berakibat kurang baik
karena hisapan bayi sangat berpengaruh pada produksi ASI berikutnya. Bagi ibu
yang bekerja di luar rumah, dianjurkan untuk sering memompa ASI setiap kali
payudara terasa penuh dilanjutkan dengan menyusui bayi langsung dari payudara
sesampainya di rumah. Hal ini berguna untuk merangsang produksi ASI. Sebaiknya
ibu juga menyusui di satu payudara terlebih dahulu sampai payudara terasa kosong
baru diganti dengan payudara lainnya. Setiap kali menyusui, dimulai dengan
payudara terakhir disusukan.
Jadi bagi ibu
yang baru melahirkan, tidak perlu merasa takut bahwa ASI-nya kurang atau tidak
dapat memproduksi ASI. Jangan mudah tergoda untuk memberikan cairan pengganti
ASI seperti susu formula atau air tajin untuk bayi karena masih banyak cara yang
dapat dilakukan untuk memperbanyak produksi ASI. Hanya ASI investASI terbaik
yang dapat kita berikan untuk buah hati kita sejak awal kehidupannya.
-sinta-
19.45 29042012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar