Pada hari Sabtu kemarin, tepatnya tanggal 25 Februari 2012, diadakan kegiatan Parenting dengan tema “Mengatasai Tantrum pada Anak” di Taman Pengembangan Anak Makara UI. Kegiatan Parenting ini diadakan dengan konsep sharing mengenai pengalaman saat mengatasi anak tantrum antar orang tua murid yang dipandu oleh moderator, koordinator TPA Makara UI yang juga psikolog anak.
“Temper tantrum” adalah emosi yang meledak. Kebanyakan output dari temper tantrum ini menjadi negatif. Negatif bukan karena meledaknya, tetapi karena perilaku lanjutan dari “temper tantrum” ini. Seperti misalnya memukul, menangis sambil berteriak-teriak, melempar dan merusak benda-benda di sekitarnya, serta menyakiti diri sendiri dan orang lain
Ada masa usia di mana seorang anak masih wajar untuk memiliki “temper tantrum”, yaitu pada usia 18 bulan sampai dengan 4 tahun. Akan tetapi bukan berarti jika anak menjadi tantrum pada usia itu orang tua dapat terus memaklumi tanpa melakukan tindakan, karena jika orang tua tidak membiasakan untuk memperlakukan anak yang tantrum dengan tepat sejak usia dini, bukan tidak mungkin anak tersebut akan terus memiliki “temper tantrum” sampai usianya dewasa nanti.
“Temper tantrum” terjadi karena anak ingin berkomunikasi atau menyampaikan sesuatu kepada orang di sekitarnya, tetapi mereka tidak tahu bagaimana cara mengkomunikasikannya. Sehingga terjadilah apa yang disebut dengan “temper tantrum” yang biasanya pada awalnya ditandai dengan anak menangis sambil berteriak kemudian setelah itu disertai oleh perilaku lanjutannya, seperti memukul atau melempar benda-benda di sekitarnya.
Tantrum terdiri dari 3 macam, yang pertama karena anak belajar, kedua karena adanya modelling, dan ketiga karena seeking attention. Anak-anak memiliki sifat yang cerdik. Beberapa anak yang tantrum karena belajar dan modeling, disebabkan karena anak berpikir bahwa ketika saya marah, orang tua saya akan mengabulkan keinginan saya. Itulah mengapa diperlukan penanganan yang tepat untuk anak tantrum. Sedangkan pada anak yang seeking attention, ia hanya kesulitan untuk mengkomunikasikan keinginannya sehingga kemudian menjadi tantrum untuk mencari perhatian orang-orang di sekitarnya. Anak yang mengalami speech delay juga kemungkinan besar akan menjadi tantrum. Karena speech delay memiliki 2 output, yaitu anak dapat menjadi pendiam sekali atau anak justru akan menjadi destruktif dan hiperaktif yang kemudian akan menjadi tantrum.
Puncak tantrum terjadi saat usia 2-3 tahun. Disebut juga toddler atau terrible two. Mengapa terrible two? Karena anak-anak pada usa 2-3 tahun mempunyai karakteristik tersendiri yang berbeda dengan bayi dan anak usia pre-school. Anak usia 2-3 tahun memiliki perilaku yang mirip dengan perilaku remaja, seperti misalnya sulit dinasihati dan cenderung menentang. Itulah mengapa anak pada usia ini mengalami puncak tantrum.
Memeluk anak merupakan tindakan paling bijaksana yang dapat dilakukan pada saat anak tantrum. Karena pelukan yang dilakukan oleh orang terdekat anak dapat menyamankan dan menenangkan emosi anak. Jangan pernah tanya “kenapa?” ketika anak sedang marah, karena kita tidak akan mendapat jawaban yang memuaskan dari anak dan anak pun belum tentu mau menjawabnya. Kitalah yang harus menebak apa yang menyebabkan kemarahan anak tersebut. Tunggu anak sampai selesai marah dulu baru kita mengajaknya bicara. Sebaiknya kita juga tidak menghukum anak yang tantrum, karena pada dasarnya anak memang tidak bersalah, anak hanya kesulitan untuk mengkomunikasikan pikirannya saja. Berilah apresiasi kepada anak yang mau diajak berbicara dengan baik setelah ia selesai marah, dengan begitu anak akan merasa dihargai.
Penanganan yang tepat untuk anak tantrum sangat diperlukan sejak usia dini. Karena jika temper tantrum tidak mendapatkan penanganan yang tepat sejak usia dini, tantrum akan berlanjut hingga anak dewasa.
-sinta-
09.41 03032012