NICE HOMEWORK #3
MEMBANGUN PERADABAN
DARI DALAM RUMAH
a. Surat cinta untuk suami
Sebenarnya
saya termasuk orang yang sulit untuk mengucapkan kata-kata romantis untuk
suami, dan mungkin selama hampir 4 tahun menikah inilah surat cinta pertama
yang saya buat untuk suami, sekaligus bertepatan dengan ulang tahun perkawinan
kami yang ke-4 tanggal 30 Juni 2017 nanti. Surat cinta ini saya persembahkan
berkat dorongan dan motivasi dari IIP J
Assalamualaikum.
Mas
Ody sayang..
Aku
menulis surat ini saat Mas Ody sedang tidur terlelap bersama Anya, aku menulis
surat ini sambil memandang wajah Mas Ody yang sedang terlelap karena kelelahan,
entah itu lelah karena bekerja untuk menafkahi aku dan Anya, entah itu lelah
karena seharian menghadapi aku dan Anya yang sering membuat Mas Ody kewalahan.
Apapun itu.. aku hanya mau mengucapkan..
Terima kasih..
Mas
Ody sudah berhasil menjadi suami, kakak, bapak, dan sahabat untuk aku selama
ini, di saat aku mengikuti Mas Ody untuk merantau dan merasa seperti kehilangan
semua sosok itu, Mas Ody berhasil melengkapi semua peran itu untuk aku.
Untuk
setiap pengertiannya menghadapi segala tingkah laku dan ucapanku yang sering
menguji kesabaran Mas Ody. Aku janji aku akan selalu berusaha memperbaiki diri
untuk keluarga kita.
Untuk
segala perhatian, waktu, tenaga, bimbingan, dan cinta yang telah Mas Ody curahkan selama ini untuk aku.
Untuk kesabarannya mengingatkan
aku agar selalu menjadi orang yang lebih baik.
Maaf..
Untuk setiap ucapan dan tingkah
lakuku yang sering menguji kesabaran Mas Ody.
Untuk setiap ketidaksempurnaanku
sebagai istri dan ibu.
Untuk setiap kekuranganku dalam
menyayangi dan memperhatikan keluarga Mas Ody.
Untuk
setiap sifat burukku yang tampak selama aku mendampingi Mas Ody selama 4 tahun
ini.
Melalui surat ini, aku
mau menyampaikan sama Mas Ody bahwa aku mencintai Mas Ody dengan segenap jiwa
dan ragaku, dan aku berjanji aku akan selalu berusaha menjadi orang yang lebih
baik lagi untuk Mas Ody dan anak-anak kita nanti. Semoga Allah selalu
membimbing, memberkahi, dan melindungi langkah kita sebagai suami istri ya,
Mas.. Semoga kita juga bisa selalu melengkapi satu sama lain, berjalan
beringiringan, dan mendampingi anak-anak kita hingga mereka dewasa nanti,
dengan segala kekurangan dan kelebihan kita.
With love,Sinta
Reaksi suami setelah membaca surat dari saya ini adalah tersenyum,
terharu, serta langsung memeluk saya erat dan mencium kening saya. Kami memang
bukan pasangan yang selalu bisa bersikap romantis, tapi buat saya, hal tersebut
sudah sangat menunjukkan bahwa kami adalah pasangan yang saling menyayangi.
b. Potensi kekuatan yang ada pada diri anak.
Alhamdulillah,
saya merasa anak saya adalah seorang fast learner, ia cepat sekali menangkap
apabila diajarkan hal-hal baru oleh saya atau ayahnya, mungkin ini berkaitan
dengan usianya yang saat ini menginjak usia golden age yaitu 3 tahun.
Kesempatan ini saya jadikan ajang untuk mengajarkan berbagai surat pendek dalam
Al-qur’an, doa sehari-hari, dan sholat. Saya ajarkan dengan cara mengulang-ulang
terus setiap hari. Saya juga ajarkan berbagai warna, huruf, angka, huruf
hijaiyah, dan beberapa kosakata Bahasa Inggris melalui permainan sehari-hari
dan ia merasa senang melakukannya. Begitu pula saat hendak disapih dan toilet
training, ia dengan mudah melakukannya, dengan cara saya beri tahu
berulang-ulang saat sebelum tidur “sebentar lagi ga mimik lagi ya..”, kurang
lebih satu bulan setelah itu, ia bisa lepas menyusu dengan sendirinya, tanpa banyak
drama, dan tanpa ancaman seperti susunya pedas, pahit, dll. Saat toilet
training, ia memulai itu dengan sendirinya, justru saya yang tersadar untuk
memulai toilet training saat ia sudah lebih senang untuk BAK dan BAB di kamar
mandi. Alhamdulillah.
Potensi
lain yang saya sadari ada pada anak saya yaitu ia adalah anak yang penyayang
terhadap orang-orang terdekat di sekitarnya, ia sering memeluk, mencium, dan
membelai ayah ibunya. Begitu pula saat bermain dengan temannya, ia dengan mudah
meminjamkan beberapa mainannya saat sedang bermain bersama.
Di
usianya yang sudah menginjak 3 tahun ini, ia juga sudah senang dengan buku,
bahkan ia pun sudah hafal cerita dari beberapa bukunya. Ia juga pandai
berargumen dengan ayah ibunya. Apabila saya atau ayahnya memintanya untuk
melakukan sesuatu dan ia tidak mau melakukannya, ia akan mengutarakan
alasan-alasannya mengapa ia tidak mau, dan apabila ia akhirnya mau, ia akan
mengatakan kapan ia akan melakukannya.
c. Potensi kekuatan yang ada pada diri sendiri.
Sejak
satu bulan menikah hingga saat ini, saya mengikuti suami saya merantau
berpindah-pindah kota dalam pekerjaannya. Dari situlah saya merasa bahwa saya
adalah seorang yang mandiri, hidup bertiga dengan suami dan anak tanpa bantuan
dari orangtua. Hal ini pulalah yang menjadikan saya seorang yang pandai
beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Saya juga seorang yang senang
mempelajari hal-hal baru dan membaca buku, bahkan hal ini pula yang saya
tularkan kepada suami saya sejak awal berkenalan. Saya termasuk orang yang
perfeksionis dan detil dalam segala hal, sebenarnya saya bingung apakah hal ini
termasuk potensi atau kekurangan, tapi saya pikir dalam mendidik anak dan
mengurus keluarga hal ini juga diperlukan, jadi saya anggap itu sebagai
potensi.
Dengan
segala potensi yang saya miliki ini, saya yakin Allah menghadirkan saya untuk
keluarga saya untuk mengurus dan merawat mereka lebih baik. Terutama untuk anak
saya, karena ibu adalah madrasah pertama untuk anak-anaknya, saya dengan segala
potensi saya hadir untuk mendidik dan menanamkan nilai-nilai baik untuk anak
saya. Dengan segala potensi saya juga, saya hadir untuk suami saya sebagai
teman hidupnya untuk selalu menemani langkahnya dan melengkapi hidupnya
selamanya, insya Allah.
d. Tantangan apa saja yang ada di depan mata, dan mengapa
Allah menghadirkan keluarga saya di sini.
Tantangan
yang ada di depan mata dan mungkin akan selalu saya hadapi adalah mengikuti
suami saya berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya dalam pekerjaannya.
Setiap 2-3 tahun sekali suami saya selalu menghadapi perpindahan area di
kantornya dan saya sudah berkomitmen sejak awal bahwa saya akan mengikuti
kemanapun suami saya ditempatkan dalam pekerjaannya. Tentu tidak mudah
berpindah dari satu kota ke kota lainnya, karena setelah kami merasa nyaman
dengan satu kota tersebut, kami harus pindah lagi ke kota lainnya dan
beradaptasi lagi dengan lingkungannya. Tetapi, saya dan suami selalu berpikir,
janganlah hal ini dijadikan hambatan dalam kehidupan kami, selama kami hidup
bertiga (saya, suami, dan anak) bersama-sama insya Allah kami akan selalu
menjadi kuat dan bahagia. Karena saya berpikir, Allah menciptakan suami , saya,
dan anak kami, agar kami dapat selalu saling menguatkan dan membahagiakan satu
sama lain bersama-sama, apapun keadaannya
Terima kasih kepada tim IIP untuk tugasnya yang sangat menginsipirasi,
memotivasi, dan mengaduk-aduk perasaaan ini J
Salam Ibu Profesional J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar