Sabtu, 03 Juni 2017


NICE HOMEWORK #3
MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH

a. Surat cinta untuk suami

                Sebenarnya saya termasuk orang yang sulit untuk mengucapkan kata-kata romantis untuk suami, dan mungkin selama hampir 4 tahun menikah inilah surat cinta pertama yang saya buat untuk suami, sekaligus bertepatan dengan ulang tahun perkawinan kami yang ke-4 tanggal 30 Juni 2017 nanti. Surat cinta ini saya persembahkan berkat dorongan dan motivasi dari IIP J

                Assalamualaikum.

Mas Ody sayang..

Aku menulis surat ini saat Mas Ody sedang tidur terlelap bersama Anya, aku menulis surat ini sambil memandang wajah Mas Ody yang sedang terlelap karena kelelahan, entah itu lelah karena bekerja untuk menafkahi aku dan Anya, entah itu lelah karena seharian menghadapi aku dan Anya yang sering membuat Mas Ody kewalahan. Apapun itu.. aku hanya mau mengucapkan..

Terima kasih..

Mas Ody sudah berhasil menjadi suami, kakak, bapak, dan sahabat untuk aku selama ini, di saat aku mengikuti Mas Ody untuk merantau dan merasa seperti kehilangan semua sosok itu, Mas Ody berhasil melengkapi semua peran itu untuk aku.

Untuk setiap pengertiannya menghadapi segala tingkah laku dan ucapanku yang sering menguji kesabaran Mas Ody. Aku janji aku akan selalu berusaha memperbaiki diri untuk keluarga kita.

Untuk segala perhatian, waktu, tenaga, bimbingan, dan cinta yang telah  Mas Ody curahkan selama ini untuk aku.

                Untuk kesabarannya mengingatkan aku agar selalu menjadi orang yang lebih baik.

Maaf..

                Untuk setiap ucapan dan tingkah lakuku yang sering menguji kesabaran Mas Ody.

                Untuk setiap ketidaksempurnaanku sebagai istri dan ibu.

                Untuk setiap kekuranganku dalam menyayangi dan memperhatikan keluarga Mas Ody.

Untuk setiap sifat burukku yang tampak selama aku mendampingi Mas Ody selama 4 tahun ini.

Melalui surat ini, aku mau menyampaikan sama Mas Ody bahwa aku mencintai Mas Ody dengan segenap jiwa dan ragaku, dan aku berjanji aku akan selalu berusaha menjadi orang yang lebih baik lagi untuk Mas Ody dan anak-anak kita nanti. Semoga Allah selalu membimbing, memberkahi, dan melindungi langkah kita sebagai suami istri ya, Mas.. Semoga kita juga bisa selalu melengkapi satu sama lain, berjalan beringiringan, dan mendampingi anak-anak kita hingga mereka dewasa nanti, dengan segala kekurangan dan kelebihan kita.

                                                                                                                                                With love,Sinta  

Reaksi suami setelah membaca surat dari saya ini adalah tersenyum, terharu, serta langsung memeluk saya erat dan mencium kening saya. Kami memang bukan pasangan yang selalu bisa bersikap romantis, tapi buat saya, hal tersebut sudah sangat menunjukkan bahwa kami adalah pasangan yang saling menyayangi.

b. Potensi kekuatan yang ada pada diri anak.

                Alhamdulillah, saya merasa anak saya adalah seorang fast learner, ia cepat sekali menangkap apabila diajarkan hal-hal baru oleh saya atau ayahnya, mungkin ini berkaitan dengan usianya yang saat ini menginjak usia golden age yaitu 3 tahun. Kesempatan ini saya jadikan ajang untuk mengajarkan berbagai surat pendek dalam Al-qur’an, doa sehari-hari, dan sholat. Saya ajarkan dengan cara mengulang-ulang terus setiap hari. Saya juga ajarkan berbagai warna, huruf, angka, huruf hijaiyah, dan beberapa kosakata Bahasa Inggris melalui permainan sehari-hari dan ia merasa senang melakukannya. Begitu pula saat hendak disapih dan toilet training, ia dengan mudah melakukannya, dengan cara saya beri tahu berulang-ulang saat sebelum tidur “sebentar lagi ga mimik lagi ya..”, kurang lebih satu bulan setelah itu, ia bisa lepas menyusu dengan sendirinya, tanpa banyak drama, dan tanpa ancaman seperti susunya pedas, pahit, dll. Saat toilet training, ia memulai itu dengan sendirinya, justru saya yang tersadar untuk memulai toilet training saat ia sudah lebih senang untuk BAK dan BAB di kamar mandi. Alhamdulillah.

                Potensi lain yang saya sadari ada pada anak saya yaitu ia adalah anak yang penyayang terhadap orang-orang terdekat di sekitarnya, ia sering memeluk, mencium, dan membelai ayah ibunya. Begitu pula saat bermain dengan temannya, ia dengan mudah meminjamkan beberapa mainannya saat sedang bermain bersama.

                Di usianya yang sudah menginjak 3 tahun ini, ia juga sudah senang dengan buku, bahkan ia pun sudah hafal cerita dari beberapa bukunya. Ia juga pandai berargumen dengan ayah ibunya. Apabila saya atau ayahnya memintanya untuk melakukan sesuatu dan ia tidak mau melakukannya, ia akan mengutarakan alasan-alasannya mengapa ia tidak mau, dan apabila ia akhirnya mau, ia akan mengatakan kapan ia akan melakukannya.

c. Potensi kekuatan yang ada pada diri sendiri.

                Sejak satu bulan menikah hingga saat ini, saya mengikuti suami saya merantau berpindah-pindah kota dalam pekerjaannya. Dari situlah saya merasa bahwa saya adalah seorang yang mandiri, hidup bertiga dengan suami dan anak tanpa bantuan dari orangtua. Hal ini pulalah yang menjadikan saya seorang yang pandai beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Saya juga seorang yang senang mempelajari hal-hal baru dan membaca buku, bahkan hal ini pula yang saya tularkan kepada suami saya sejak awal berkenalan. Saya termasuk orang yang perfeksionis dan detil dalam segala hal, sebenarnya saya bingung apakah hal ini termasuk potensi atau kekurangan, tapi saya pikir dalam mendidik anak dan mengurus keluarga hal ini juga diperlukan, jadi saya anggap itu sebagai potensi.

                Dengan segala potensi yang saya miliki ini, saya yakin Allah menghadirkan saya untuk keluarga saya untuk mengurus dan merawat mereka lebih baik. Terutama untuk anak saya, karena ibu adalah madrasah pertama untuk anak-anaknya, saya dengan segala potensi saya hadir untuk mendidik dan menanamkan nilai-nilai baik untuk anak saya. Dengan segala potensi saya juga, saya hadir untuk suami saya sebagai teman hidupnya untuk selalu menemani langkahnya dan melengkapi hidupnya selamanya, insya Allah.

d. Tantangan apa saja yang ada di depan mata, dan mengapa Allah menghadirkan keluarga saya di sini.

                Tantangan yang ada di depan mata dan mungkin akan selalu saya hadapi adalah mengikuti suami saya berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya dalam pekerjaannya. Setiap 2-3 tahun sekali suami saya selalu menghadapi perpindahan area di kantornya dan saya sudah berkomitmen sejak awal bahwa saya akan mengikuti kemanapun suami saya ditempatkan dalam pekerjaannya. Tentu tidak mudah berpindah dari satu kota ke kota lainnya, karena setelah kami merasa nyaman dengan satu kota tersebut, kami harus pindah lagi ke kota lainnya dan beradaptasi lagi dengan lingkungannya. Tetapi, saya dan suami selalu berpikir, janganlah hal ini dijadikan hambatan dalam kehidupan kami, selama kami hidup bertiga (saya, suami, dan anak) bersama-sama insya Allah kami akan selalu menjadi kuat dan bahagia. Karena saya berpikir, Allah menciptakan suami , saya, dan anak kami, agar kami dapat selalu saling menguatkan dan membahagiakan satu sama lain bersama-sama, apapun keadaannya

Terima kasih kepada tim IIP untuk tugasnya yang sangat menginsipirasi, memotivasi, dan mengaduk-aduk perasaaan ini J

Salam Ibu Profesional J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar